Saturday, 20 February 2010

Essensi Hidup

What is the essential of your life?

Seorang teman minggu kemarin bertanya atau lebih tepatnya mengajak saya buat jalan-jalan bareng ke Subang. Saya bilang ke dia tentu aja saya ngga bisa ikut karena selain saya emang udah mulai masuk kuliah lagi, saya juga punya sebuah proyek yang udah deket deadlinenya. Kemudian tanpa tedeng aling-aling dia bilang saya ngga asik karena cuma ngurusin hal-hal seperti itu (kuliah+kerjaan). Malah dia bilang sepertinya sekarang-sekarang ini saya hidup seperti robot yang didikte harus ngelakuin ini dan itu.


Katanya saya tidak punya kehidupan. Hidup saya sudah kehilangan essensinya.


Yeah, saya kesal! This person just didn't know shit! Siapa dia bisa menilai kehidupan yang saya jalani hanya dari pandangannya yang buram?

Okelah saya tahu kalau semenjak zaman kuliah saya termasuk orang yang ngga pernah ikut travelling sama teman-teman lama saya. Selain karena saya kuliah di Jakarta yang menyebabkan hidup saya masih 1000% dikontrol oleh Orangtua, saya juga sekarang bukan orang yang bisa seenaknya menghabiskan uang untuk hal-hal seperti travelling. Don't get me wrong, i do LOVE travelling! Honestly, i've got jealous everytime they go on travelling to somewhere great. I'm sad everytime i realize i couldn't be with them and spend lots of fun time. Tapi itu semua karena saya sadar saat-saat seperti ini bukan saatnya saya untuk bersenang-senang terus dan menghabiskan uang banyak. Lagipula waktu kuliah saya sangat tidak fleksibel. Cabut seminggu aja gede banget resikonya! Teman-teman sejurusan saya pasti setuju sama saya -__-

FYI, ayah saya kebetulan sudah pensiun sementara saya masih punya 2 adik yang masih sekolah dan saya pun masih kuliah. Meanwhile, sekarang segala kebutuhan makin mahal dan yang saya bisa lakukan hanyalah berhemat dan berhemat. Kadang saya kerja kalau timing nya pas dan ada kesempatan yang bagus seperti sekarang ini. Travelling, jalan-jalan ke luar kota, dan lain sebagainya adalah hal yang kesekian yang menjadi prioritas saya sekarang ini. Paling saya cuma bisa jalan-jalan atau entertain myself di seputaran Jabodetabek ajah. Saya yakin lah suatu hari nanti saat saya sudah menghasilkan sesuatu saya juga bisa jalan-jalan ke tempat mana saja yang saya mau. Semua ada waktunya...


Kembali ke teman saya tadi, I told him, Yes, i am a robot! so just let this robot live its own life. Robot has a life too and you humans can never understand it! Dan sepertinya teman saya itu sadar kalau saya kesal :p. Lagipula apakah sebuah essensi kehidupan hanya dinilai sekedar dari kesenangan-kesenangan yang ada?

What I'm trying to say here, every single person in this bloody world has their own ways to live their lifes. We know what's best for ourself, we know the essential of our own lifes. Seriously, you have to know somebody reaallyy reaallyy well before you can give a statement and judging that person has lost the essential of his/her life!


I'm leaving. Banyaaakkk tugaaaassss!


XOXO,

Tuesday, 2 February 2010

Sabar Donk! Namanya Juga Angkutan Umum!

Hari ini saya kembali ke peraduan kampus elok nan indah saya. Setelah mangkir satu hari kemarin, bolos dan nambah liburan sehari karena ada kerjaan (serius loh ini, bukan alasan! hihi), saya mau ngga mau menerima kenyataan pagi ini bahwa MY HOLIDAY IS OFFICIALLY OVER.

Sedih? ngga sih..

Kesel? Iya bangeeet!

I'm a very holiday person. Saya tipe orang yang ngga akan pernah bosan liburan biarpun liburan itu panjaaaaaannnnng banget. Selama badan saya sehat wal'afiat saya bakal menjalani segala macam liburan dengan happy (biarpun ngga kemana-mana juga sih yaa..).

Well, kembali kuliah berarti kembali dengan rutinitas yang gila, tugas-tugas yang LUAR BIASA, teman-teman yang juga LUAR BIASA (gilanya..), dan juga satu hal lagi: struggling naik bus metromini tiap pulang kuliah.





Bus Metromini yang selalu saya naikkin ini agak beda dengan metromini yang biasanya cuma ada tulisan "METROMINI" atau "KOPAJA". Lain karena namanya yang macam nama tokoh di telenovela, warnanya yang ungu aduhai, dan mungkin ini satu-satunya bus metromini yang antar kota antar propinsi (biarpun cuma antar Jakarta-Depok).

Saya sebenarnya benci benci sayang sama bus ini. Benci karena bus ini kebanyakan bapuk banget ditambah supir dan para keneknya yang, mostly, bajingan. Sayang karena, yah, well, kalau ngga ada si Ungu aduhai ini saya pasti bingung banget musti nyambung-nyambung naik angkot sampai kampus.

Tadi sore, saat pulang kuliah, saya duduk tepat di sebelah supir. Supir yang ini saya perhatiin agak mendingan; badannya agak kecil, sudah agak sepuh, dan pakai kopiah (which is, cerminan orang baik buat saya. shallow emang). Sepanjang perjalanan saya terngantuk-ngantuk dan menahan sumpek karena di luar hujan. Pas sampai di stasiun Tanjung Barat, si supir menepikan busnya untuk nge-tem (sebenarnya apa sih bahasa baku buat nge-tem??).

5 menit.. 10 menit.. 12 menit..

Ko lama amat nih supir nge-temnya? Saya ngeliat ke belakang, bus itu udah lumayan penuh bahkan beberapa orang terpaksa berdiri karena ngga kebagian tempat duduk. Seharusnya ya bus udah musti jalan donk, tapi si supir malah diem aja sambil ngajak orang-orang yang baru keluar dari stasiun buat naik bus. Saya sih sabar aja lah ya, udah biasa juga disemena-menain gini. Tiba-tiba dari belakang seorang bapak-bapak neriakin si supir, "Woy pir! ngapain lagi sih nge-tem?! udah penuh nih busnya!" dengan nada marah tentunya.

Si supir, entah budek beneran atau emang ga peduli, cuek aja. Selang kira-kira 2 menit, si supir mulai nginjek gas dan mulai melaju. Terus, surprisingly, dia nanggepin omelan bapak itu loh (walau telat banget emang responnya), dia bilang, "Kalo ngga mau lama ya naik aja taxi pak! sabar donk! namanya juga angkuran umum!" sambil bersungut ngga jelas. Si bapak yang dituju ngga nanggepin apa-apa lagi atau saya yang ngga tau karena saya ngga nengok-nengok ke belakang.

Lucu ya jawaban si supir itu,
"sabar donk! namanya juga angkutan umum!"

Bukannya yang namanya angkutan UMUM itu harus ngikutin apa maunya orang-orang secara UMUM ya? I mean, harusnya sebagai personel angkutan umum mereka itu harusnya memperhatikan kepentingan umum dan bukannya kepentingan mereka pribadi atau kepentingan boss mereka. Semua orang pasti ingin cepat sampai tempat tujuan. Coba bayangin gimana kalau ada penumpang yang lagi menuju Rumah Sakit karena kerabatnya ada yang sakit parah?? Atau gimana kalau ada mahasiswa yang was-was takut telat masuk kuliah? Atau lebih ekstrem lagi, gimana kalo salah satu penumpang ada yang kebelet buang air????

No wonder ya, akhirnya banyak orang yang malesss naik angkutan umum kemana-mana. Banyak loh yang memilih membeli kendaraan pribadi (mobil dan TERUTAMA motor), betapapun mahalnya harga kendaraan pribadi. Tapi demi kenyamanan dan keefisienan waktu mereka bela-belain beli kendaraan pribadi biarpun harus kredit atau nyicil-nyicil. Setidaknya dengan punya kendaraan kita bisa dapet kenyamanan ataupun keefisienan waktu.

Kalau punya mobil jelas lebih nyaman (kasusnya kalau mobilnya oke yaa..), terlindung dari panas dan hujan, walau keefisienannya tetap aja dipertanyakan karena toh kena macet juga.

Kalau punya motor jelas sangat efisien dan ngga terlalu kena macet, walaupun sangat tidak nyaman (tapi beberapa sudah dibuat biar nyaman sedemikian rupa) dan lebih beresiko di jalanan.

Sebenarnya saya tipe orang yang suka ngeluh dan nyalahin kendaraan-kendaraan pribadi kalau lagi macet. Saya suka sebel kalau ngeliat tiap mobil isinya cuma 1 orang, boros jalan kan! Saya lebih sebel lagi kalo ngeliat pengemudi motor yang kebanyakan ugal-ugalan, salip sana sini, ga tau aturan, bikin orang celaka, dan bikin ricuh suasana jalan. Tapi setelah memikirkan hal ini saya jadi agak maklum kenapa mereka-mereka yang berkendaraan pribadi itu tetap bertahan dengan kendaraan pribadinya dan menolak angkutan umum, Ya wong angkutan umumnya aja sampah kayak gitu!

Nah sekarang musti gimana donk? tentu aja orang yang wajib ngeberesin kekacauan ini ya tidak lain adalah Pemda setempat dan kementrian perhubungan. Percuma deh mereka banyakin angkutan umum yang nyaman (kata mereka) kayak busway atau lainnya kalau kualitasnya masih sangat minim. Yang perlu diperbaiki tentu saja kualitas tiap jenis transportasi umum, kayak kebersihannya dan (yang sangat penting) pelayanannya. Ngga papalah tetap ada angkot atau kopaja asal mereka tertib dan ngga nge-tem sembarangan dan lama. That's why musti ada penyuluhan juga untuk para mereka yang berkecimpung di dunia per-angkutan umum. Istilahnya ya mereka itu harus di-training gituuu! hahaha. Kalau sudah gitu pasti masyarakat bakal betah pakai angkutan umum dan ngga ragu buat ninggalin kendaraan pribadinya di rumah buat pajangan. Dengan begitu, jalanan juga semakin berkurang macetnya, bukan?

Cape ngga bacanya? Yah cukup sekian postingan kali ini deh. Cape juga meracau ngritik orang ya? Makasih loh kalau ada yang masih mau baca tulisan aneh ini, I just tried to sharing my thought here :D



XOXO,