Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Showing posts with label Movie Review. Show all posts

Tuesday, 7 January 2014

Movie Review: About Time




We're all travelling
through time together
every day of our lives.
All we can do is do our best
to relish this remarkable ride.
[About Time - 2013]



Hell, Richard Curtis did it again!


The king of rom-coms director is back. Buat yang suka sama film rom-com (Me? LOVIN IT!) pasti sudah sangat familiar dengan karya-karya si kakek romantis ini. Love Actually, Notting Hill, Bridget Jones Diaries, Four Funerals and Weddings? You've gotta be kidding me if you don't recognize him from those movies.

Kali ini mata saya langsung jatuh cinta oleh pemandangan apik nan romantis Vault beach, Inggris sebagai salah satu setting di film ini. Alkisah, keluarga Lake tinggal di rumah di tepi pantai di mana mereka hidup dengan sangat nyaman, damai dan harmonis. Everything looks perfect (way till the end, in fact. Ooops spoiler alert!)

Tiba-tiba, di hari ulang tahunnya yang ke-21, Tim (Domhnall Gleeson) si sulung mendapat kejutan dari sang ayah. Bukan sulap bukan sihir, semua lelaki di keluarga Lake ternyata punya kemampuan untuk travel back in time alias jalan-jalan ke masa lalu.

Sounds familiar? sampai sini saya mulai berpikir, jangan-jangan film ini semacam jiplakan dari "The Time Traveler's Wife" yang mengusung tema science dan romance jadi satu. Kebetulan juga both of the movies have the same heroine, Ms. Rachel McAdams herself. Tapi dari awal film ini tidak ada kesan serius sama sekali, atau mungkin karena efek si kakek eksentrik Bill Nighy yang jadi Mr. Lake senior ya?

Lanjut cerita, Tim lantas menganggap ayahnya sudah gila. Namun, karena didesak, ia akhirnya mencoba apa yang diinstruksikan ayahnya agar bisa jalan-jalan ke masa lalu. Dan yaa benar aja loh, si Tim balik ke malam sebelumnya saat ada pesta tahun baru di rumahnya. 

Tim yang shock mulai bertanya-tanya untuk apa sebenarnya kemampuan itu. Sang ayah dengan bijak dan sedikit konyol mengingatkan Tim untuk senantiasa hati-hati dengan gift nya tersebut. Banyak lelaki di keluarga besarnya yang hidupnya berantakan atau bahkan kewarasannya terganggu akibat serampangan jalan-jalan ke masa lalu. Dasar Tim yang memang aslinya lugu dan sedikit naif, dia bilang ke ayahnya kalau dia hanya ingin menggunakan kekuatannya untuk mencari cinta. Cheesy? Hmmm, super!

His first try adalah mencoba merubah keadaan di masa lalu agar cinta pertama-nya mau menerima cintanya. Sayang, bahkan merubah masa lalu pun tidak bisa membuat seseorang lantas jatuh cinta kepadamu. Mungkin itu pesan pertama yang saya tangkap di film ini. 

Singkatnya, Tim pindah ke London untuk mengejar karir sebagai pengacara muda. Seperti yang sudah bisa diduga, there he found love and he messed it up by helping a friend in need, same old.. same old... 
Adalah seseorang yang lugu, manis, agak quirky bernama Mary (Rachel McAdams) yang menjadi wanita idaman Tim kali ini. Dari pertemuan pertamanya yang manis, sampai proses Tim menemukan kembali Mary karena keteledorannya yang membuat Mary sempat tidak eksis di kehidupannya, manjadi krisis pertama dari Tim's time-travelling experience.

The rest of the movies, mata saya seperti digelayuti mimpi tak berkesudahan tentang manisnya pasangan Tim dan Mary. Saat mereka memutuskan tinggal bersama, saat Tim melamar Mary, Mary yang diterima dengan sangat baik oleh keluarga Lake, hari pernikahan mereka yang lucu sampai saat putri pertama mereka lahir. Welcome to the love-tale ala Richard Curtis. Pokoknya semua berjalan rapih dan menyenangkan buat Mary dan Tim.

Konflik yang mulai serius ditunjukkan oleh beberapa kejadian yang membuat Tim sadar kalau kemampuan time-travelling nya memiliki keterbatasan. Pada akhirnya Tim harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia pun tidak bisa memilih untuk menyelamatkan ayahnya yang didiagnosa kanker stadium akhir. Karena hidup bukanlah berbalik ke belakang namun terus melangkah ke depan

Jujur film ini jauh sekali dari kata sempurna. Banyak adegan yang janggal dari time-travelling issue nya dan plot yang terlalu dipaksa dipercepat, seperti saat Tim diberitahu masalah kemampuan khususnya. Beberapa karakter yang harusnya menonjol juga malah kecil porsinya. Karakter adik Tim yang hippie-perky-quirky, Kit-kat (Lydia Wilson), kurang diasah lebih dalam padahal sangat berpotensi untuk memunculkan konflik yang lebih menarik.


Alur juga terasa sangat santai. All is about the lovey dovey of love and life. Saya sih lumayan enjoy cause I'm a big lover of this genre, tapi buat sebagian orang mungkin akan terasa jengah dan membosankan.

Namun tetap saja, king Richard Curtis selalu memberikan 'sesuatu' di akhir filmnya. 'Sesuatu' yang membuat kita merenungi hidup pada akhirnya. Hubungan Tim dan sang ayah benar-benar bikin saya nangis dayak. Satu yang pasti, setelah nonton film ini, saya jadi lebih mensyukuri hidup dan tentunya jadi lebih sayang keluarga. Totally recommended movie, over all!


"The truth is, I now don't travel back at all. Not even for the day.
I just try to live every day as if I've deliberately come back to this one day, to enjoy it as if it was the full final day of my extraordinary, ordinary life." - Tim Lake




Director: Richard Curtis
Writer: Richard Curtis
Starring: Domhnall Gleeson, Rachel McAdams, Bill Nighy, Lydia Wilson, Tom Hollander, Margot Robbie, Vanessa Kirby
Release Date: Nov. 1, 2013


xoxo,




Thursday, 13 January 2011

Review: Secret Garden. Mystical and Cute at the Same Time


These two months I’ve been watching lotso Korean drama like crazy. Recently, one drama is totally win over my heart… Secret Garden! I have a few doubts when watched it for the first time. I don’t really like the main actress, Ha Ji Won. Dunno, she doesn’t attract me at all but I gotta admit she’s a great actress. You can say that I only watched it because of the main actor: Hyun Bin!! Yeah, that beautiful Hyun Bin!





He's a bit thinner now, but look at that smile! there's no way it won't melt your heart out.





Ha Ji Won as Gil Ra Im, the cool stunt-woman


This is another rom-com drama by SBS. Hyun Bin plays as Kim Joo Won, a rude, cranky, arrogant but silly department store owner who incidentally falls in love with Gil Ra Im (Ha Ji Won), the infamous stunt-woman who has a dream to be a martial art director. The plot is so-so actually, Ra Im is living in poor and alienated neighborhood so she’s not suit the ultra rich Joo Won, but Joo Won is so eager to have Ra Im as his girl. What makes it interesting is, at first Ra Im didn’t fall for Joo Won at all because of his arrogant nature and his crankiness, in fact she hated him. She was trying her best to avoid Joo Won but Joo Won is so clingy to her. In the other hand, Joo Won himself is busy questioning why he fell in love with Ra Im at the first place. Everyplace he goes, everything he does, he often imagines Ra Im appear at his side. Joo Won felt that if he didn’t see Ra Im, he’s going to lose his sanity so he decided to fall in love with Ra Im. Silly huh? But cute!


The plot doesn’t just focus on Joo Won – Ra Im weird relationship. One day there’s an unlucky accident which made Joo Won – Ra Im, mystically, switch their soul. Things become more complicated while also make so many hilarious events and, off course, romance between Joo Won – Ra Im. They cannot help it and they inevitably should cling to each other.







official poster of Secret Garden showing the two switching their soul














crazy Oska aka Choi Woo Young. played by Yoon Sang Hyun, his character is so silly. he's one of the laugh cracker in this drama.







Kim Joo Won the crazy track suit. there's a hilarious story behind this infamous track suit. by the way, this track suit is a trend in Korea right now!








the famous Cream Kiss scene. Ra Im left cream in her lips after sipping cappucino and there comes Joo Won 'clean' it for her *gyaaaaa*





Well, I won’t tell you about the plot any longer. You should watch it yourself and let me know what do you think about this drama. fyi, it's still currently broadcast in Korea and get quite successful rating ;)




xoxo,

Monday, 21 September 2009

Obsesi Sutradara

Ooh yeahh, my deepest obsession is to becoming a director..

Basically, memang saya pencinta berat yang namanya film. Selain itu, I think, the profession as a director is one of the hard and challenging job in the world. Bayangin aja, seorang director harus membawa hal abstrak yaitu imajinasi (baik imajinasinya maupun orang lain) ke dalam bentuk visual. Abstrak sekali bukan pekerjaannya?? hehe.

I always knew that I wanted to be a director since I graduated from junior high. Awal-awal masuk SMA saya sempet mengajukan pertanyaan ke ibu saya tentang cita-cita saya yang mulia ini.

PS: I make it into a scenario format which is fun for me! hehe

4 years ago..


01. INT. RUMAH RAISYA, RUANG TENGAH – SORE/MALAM

Pemain: Raisya, Ibu Raisya


ESTABLISHING SHOT: Rumah Raisya di sebuah perumahan menengah. Berukuran sedang.

Raisya sedang bersantai menonton tv dengan ditemani ibundanya tercinta. Sesekali mereka mengobrol singkat.



Raisya: Ma, nanti aku lulus SMA mau masuk IKJ ya? mau jadi sutradara..



Ibu Raisya: IKJ?? Sutradara? mau ngapain kamu?



Raisya: Ya bikin pilm donk!!



Ibu Raisya: Kagak boleh ah!



Raisya: Ah, payaaahhh!



END

milkysmile



Setelah pembicaraan singkat itu saya pun ga pernah mengungkit masalah itu lagi. Kayaknya ekspressi muka mama yang datar udah cukup jelas buat saya. hehehe. Apalagi denger-denger IKJ itu agak menyeramkan senioritasnya. Biasa deh, kalo mau lulus, di kalangan anak-anak SMA banyak gosip-gosip seputar ospek dll. Akhirnya saya lupa sejenak sama cita-cita director saya. Saya memfokuskan diri untuk masuk Universitas-universitas negeri yang disarankan orang-orang.

Tapi sebenarnya keinginan itu ga pernah padam. Yah, namanya juga obsesi.. Dan obsesi itu mulai membara lagi akhir-akhir ini setelah saya nonton serial korea yang satu ini >>



Worlds Within


Yah, selain fakta kalau saya bener-bener mesmerized sama Hyoen Bin disini, menurut saya serial ini cool banget! Ternyata bahkan di Korea atau negara-negara maju lainnya bikin sinetron aja ribet banget, bener-bener niat gituu. Ga kayak di negara kita yang asal kejar tayang, asal main, asal dapet rupiah. Di serial ini diceritakan kalau Sutradara memegang kontrol yang sangat besar dan tanggung jawab yang (sangat) besar pula dalam pembuatan film atau sinetron. Kita bisa liat gimana stressnya mereka mulai dari syuting yang makan waktu lama sampai sempurna, rol film yang rusak, pemain yang ngaret, tengkar-tengkar antar crew, tidur bisa cuma 2 jam sehari, dan masih banyak lagi. Tapi hasilnya, saat karya mereka bisa dinikmati orang banyak, worth it sekali. And I thought, "Wow! that job (director) is a real challenge!".

Fiuuhh, saya mau banget jadi sutradara!! milkysmile

Udahan ah! the more I write and tell you about it, the more I feel such a high desire to make it come true. So I better stop in here and back to the real world.. hehehe.


XOXO,

Thursday, 3 September 2009

DVD of The Week: Innocent Voices



"This damn war will never end with a prayer..."





Ada dua alasan utama kenapa saya memilih (lagi) nonton film ini. Pertama, saya memang sedang (berusaha) menghindari film-film drama dan serial-serial yang oh-so-sweet dikarenakan bukan hanya sekarang adalah bulan suci Ramadhan (yes, I avoid those make-out scenes!). Kedua, film ini mengingatkan saya tentang masa-masa kelas Film semester 1 dulu.

Judul film: Voces Inocentes (Innocent Voices)
Sutradara: Luis Mandoki
Skenario: Oscar Torres dan Luis Mandoki
Produksi: 2004

Bersetting di El-Salvador pada saat perang saudara (1978-1984) , kisah film berbahasa Spanyol ini memang sangat berbau tragedi pilu khas perang. Pada tahun-tahun itu, tentara pemerintah dukungan Amerika tengah berperang melawan gerilyawan FMLN (Farabundo Marti la Liberacian Nacional).

Sebuah desa tak pelak sering menjadi tempat baku senjata kedua pihak tersebut. Di desa itu lah seorang anak laki-laki bernama Chava(Carlos Padilla) tinggal bersama Ibu dan kedua adiknya, sedang ayahnya meningglakan mereka sewaktu Chava masih kecil dan hanya memberi amanat kepada Chava untuk menggantikan dirinya menjadi "Kepala keluarga".

Sang Ibu, Kella (Leonor Varella), hanyalah seorang tukang jahit. Bisa tertebak betapa susahnya hidup mereka ditambah lagi dengan adanya perang di depan mata yang seakan tak ada habisnya. Seringkali, di malam hari, saat keluarga ini sedang makan malam atau bahkan sedang tidur baku tembak dahsyat terjadi. Ada adegan miris saat sang Ibu harus pergi beberapa hari ke suatu tempat dan terpaksa meninggalkan anak-anak di rumah sendiri. Malam harinya, terjadi baku tembak yang sangat dahsyat. Chava dengan gagah berani dan sigap mengkomandoi adik-adiknya untuk bersembunyi dan merangkul mereka di bawah tempat tidur. Saat adiknya yang masih balita menangis ketakutan, Chava dan adik perempuannya, malah menggunakan lipstick ibunya untuk mencoret-coret wajah mereka dan menghibur si adik kecil. Tiga anak itu pun dapat tertawa tergelak-gelak padahal di luar rumah mereka perang sedang terjadi. Miris banget...

Chava memang seorang anak kecil pemberani. Dia sama sekali tidak takut dengan peluru nyasar, yang ia takutkan justru jika ia direkrut menjadi tentara. Pada masa itu, ada peraturan di El Salvador yang menetapkan bahwa anak laki-laki yang sudah 12 tahun harus bergabung dengan tentara pemerintah dukungan Amerika tengah. Bayangkan saja, anak-anak lelaki 12 tahun akan diajari menembak, membunuh, dan hidup keras sebagai tentara...

Satu persatu teman sekolah Chava pun mulai ditarik menjadi tentara. Chava yang baru berusia 11 tahun tak ayal mecari cara untuk menghindari hal tersebut. Salah satu caranya pada akhirnya ia lebih memilih untuk menjadi gerilyawan FLMN bersama pamannya. Akibat itu pula hidup Chava terancam berakhir di tangan tentara pemerintah.

Yang membuat film ini menarik buat saya adalah cara film ini dikemas. Film ini menggunakan sudut pandang anak-anak yang innocent dalam menghadapi perang sehingga beberapa adegan malah terasa sangat lucu dan menghibur. Seperti waktu Chava naksir anak perempuan gurunya, Christina Maria (Xuna Primus). Atau saat Chava dan teman-temannya sedang menghindari tentara dan menganggapnya sebagai permainan.

Chava bukan hanya sekedar tokoh rekaan semata. Chava adalah gambaran masa kecil Oscar Torres saat masa-masa perang saudara tersebut. Jadi bisa dibilang ini adalah film yang sangat emosional untuk Torres.

Film ini lumayan sukses di perfilman internasional. Menjadi nominasi film asing terbaik di Academy Award 2005 dan menang di Berlin International Film Festival 2005 (kategori Best Feature Film) dan Seattle International Film Festival 2005 (kategori Best Film). Kalo ga percaya ini dia awards yang didapat film ini...

Wel then, selamat menikmati film bermutu iniiii...

XOXO,