Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Monday, 4 May 2015

Untitled




Just like the wheel, life keeps on rolling. One person can't be in tears all the time, while the happiness is not forever either.
Time is changing. Time is everything.
When you're happy, remember the times when you're broken down.
When you're sad, remember the times of glory you've had.

'Cause life ain't fair and everybody's been there.

As charming as life could be, we'll be taking the journey. Yes, we. You and I versus the world, versus the time, versus everything we've known including ourselves.
Fight the good battle. You and I know it even what's better to fight for.
Doubts will become our ghosts, walking along our way, appear and disappear faster than our shadows.

Never be afraid, my love. I'm as weak as you are. And together we're not the brightest. So, walk with me, my love. For what its worth, for the sake of ourselves.

This is not the vow. It's an unbreakable thing that I don't know what to call. 




Jakarta,
May 2015

Thursday, 3 April 2014

Stuff


"And that’s how it goes, Kids. The friends, neighbors, drinking buddies and partners in crime you love so much when you’re young, as the years go by, you just lose touch.You will be shocked, Kids, when you discover how easy it is in life to part ways with people forever.That’s why when you find someone you want to keep around, you do something about it."
[Ted Mosby – How I Met Your Mother S09x21]

Those lines of words got me thinking of each person that has existed in my life. How long I’ve known them. The ones who stay.. The ones who left…

As I list every friendship/relationship I’ve had, it occurs to me that I’m so blessed to be surrounded by some of the best people on earth. And surprisingly, I manage to keep many of those relationships. Teman SD, SMP, SMA, kuliah and even colleagues from work that I consider now as my new brothers and sisters.
And I’m planning to keep them around for a long long time. J

Sure, some of the most personal relationships didn’t work out and I let it go. Though I’ve to admit that I work so hard to keep the last one. I got myself thinking that we can’t make people stay if they don’t have any guts to stay. But then, I rethink again, as quoted from Mosby himself that, when you find someone you want to keep around, you do something about it. So, I think it's clear now why I keep him around my nerves after all..

Humans don’t have so much time on earth. To make it even enough would be a miracle. Some people call it joy when they can have it spent with their loved ones. And as you’re getting older you would find your time is too precious to waste it with things you don’t like, or to even pretend.



xoxo,




Thursday, 27 February 2014

Kisah Gadis Pemalu dan Lelaki Pengganggu

Alkisah di sebuah taman kecil di belahan lain sebuah kota yang tidak terlalu ramai dengan manusia, seorang gadis biasa duduk dan menatap kosong ke depannya. Ada seorang lelaki yang sedang tertawa bahagia bersama temannya. Entah apa yang ia tertawakan sampai giginya kelihatan semua.

Sang gadis tiba-tiba tersipu. Entah apa itu, yang jelas senyum lelaki itu sangat lucu.

Sadar diperhatikan, lelaki mulai berlagak. Tertawanya jadi dibuat-buat, terdengar seperti suara burung gagak. Ia memberitahu temannya bahwa ada gadis manis yang memantau mereka dari kejauhan.

Sang gadis masih berusaha menyembunyikan rona merah pipinya. Ia lantas membuka buku yang dibawanya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Tiba-tiba seseorang datang duduk di sebelahnya. Lelaki itu! Hati sang gadis jadi tak menentu. Karena salah tingkah ia bersiap angkat kaki seribu.

Si lelaki pengganggu diam saja. Niat menggangu saja yang dia punya. Namun begitu dia melihat si gadis akan segera pergi, dia segera ambil aksi.

Lelaki bertanya tentang buku yang dibaca si gadis. Si gadis tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Si lelaki bertanya lagi mengapa ia sendirian. Sang gadis hanya mengangguk sopan.

Karena penasaran dan kesal, si lelaki sontak nyeletuk, “cantik-cantik kok gagu, Mbak?”

Si gadis terkejut, namun dengan tenang dia mengambil secarik kertas dan pena dari dalam tasnya, dan menulis,

“Maaf, saya memang gagu alias tuna wicara :)”.

Ia selipkan kertas tersebut di tangan sang lelaki, kemudian dia angkat kaki.

Sang lelaki membeku setelah membaca pesan itu. Wajah sampai telinganya memerah karena malu. Ingin dia kejar si gadis itu, tapi apa daya, lidah pun tubuhnya sudah kelu.

Dari jarak 10 meter setelah meninggalkan si lelaki, sang gadis menoleh dan tertawa nyaris terbahak.

“Maaf ya, saya terlalu pemalu untuk bicara sama kamu…” ujarnya pelan.

“Gilaaa.. ngga lagi-lagi gue gangguin cewek sembarangan”, gerutu si lelaki dari kejauhan.


 ~fin~



xoxo,


Wednesday, 12 February 2014

'If I were to Send You a Letter, This Would be it’

I found this poem from Lang Leav's blog. Well, she's one of the most pop poets right now, so yes, I'm kinda into her.

This miserable, desperate yet beautiful poem talks about letting go of the dearest one at your life. I've been quite familiar with the topic of moving on, letting go and stuff like that for like, one year now. But this poem practically gives me goosebumps every time I've chance to read it.

It's not mostly about unrequited love or like that harsh broken heart. What amazed me the most is how you can turn a sad goodbye, that miserable feeling of letting go, to be one of the moment that deserves to be preserved, to be remembered as good as it got.

No hatred, no regrets, only that sad emotion of joy..



'If I were to send you a letter, this would be it’


I guess this could be both a goodbye and a hello,
 a soft goodbye because I know this letter marks the last time you will ever think of me,
 and a hard hello because you cannot simply fathom the amount of missing you that has taken place
 In this hollow heart of mine.
  
Because every night I discover you in a new and brilliant way.

Your name is painted in a delicate red under the tight seams of the wallpaper I put up after you left. 
 The ripped up poetry pages you kept are still in my trash can since it has not yet been a full week

Since I destroyed every physical memory of you. 
The roses you bought me which were intended to help stifle the pain of our breakup
only renew it in the most hateful way possible.


Obviously I still think of you though 

You are the chemical ingredients which make me feel miserable
 You are the cracks in my bones which grow with every passing hour
 You are the hour, the minute and the second hand
Always chipping away at the few hours of sanity I have left. 
And you are the rose petals in my tea

Marking the death of another far off love that couldn’t have been quite as extraordinary as ours. 
Yet I find myself thinking 
 If I could just let go of all of these things then maybe 
 Just maybe, I can let go of you too.
 So I have decided to leave 
 to leave this apartment which is only a graveyard of short-lived memories
 And to move to another country
 And maybe then I will finally be happy. 

I will write more and read more, paint and take more photographs, and hopefully fall in love, one last time.

 But if that makes you sad just know this;
 I will still find you in some way, whether it be the touch of the cold rain or silent kiss of soft snow 
 or even the whisp of sheets which surround me as I sleep 

And it will be these moments, these soft goodbyes and hard hellos 
Which I will live for

When my next lover becomes eternally reckless with my crystal heart...



— Grayson Herrg, “If I were to write you a letter this would be it” (via Langleav's blog)



xoxo,

 



Tuesday, 7 January 2014

Movie Review: About Time




We're all travelling
through time together
every day of our lives.
All we can do is do our best
to relish this remarkable ride.
[About Time - 2013]



Hell, Richard Curtis did it again!


The king of rom-coms director is back. Buat yang suka sama film rom-com (Me? LOVIN IT!) pasti sudah sangat familiar dengan karya-karya si kakek romantis ini. Love Actually, Notting Hill, Bridget Jones Diaries, Four Funerals and Weddings? You've gotta be kidding me if you don't recognize him from those movies.

Kali ini mata saya langsung jatuh cinta oleh pemandangan apik nan romantis Vault beach, Inggris sebagai salah satu setting di film ini. Alkisah, keluarga Lake tinggal di rumah di tepi pantai di mana mereka hidup dengan sangat nyaman, damai dan harmonis. Everything looks perfect (way till the end, in fact. Ooops spoiler alert!)

Tiba-tiba, di hari ulang tahunnya yang ke-21, Tim (Domhnall Gleeson) si sulung mendapat kejutan dari sang ayah. Bukan sulap bukan sihir, semua lelaki di keluarga Lake ternyata punya kemampuan untuk travel back in time alias jalan-jalan ke masa lalu.

Sounds familiar? sampai sini saya mulai berpikir, jangan-jangan film ini semacam jiplakan dari "The Time Traveler's Wife" yang mengusung tema science dan romance jadi satu. Kebetulan juga both of the movies have the same heroine, Ms. Rachel McAdams herself. Tapi dari awal film ini tidak ada kesan serius sama sekali, atau mungkin karena efek si kakek eksentrik Bill Nighy yang jadi Mr. Lake senior ya?

Lanjut cerita, Tim lantas menganggap ayahnya sudah gila. Namun, karena didesak, ia akhirnya mencoba apa yang diinstruksikan ayahnya agar bisa jalan-jalan ke masa lalu. Dan yaa benar aja loh, si Tim balik ke malam sebelumnya saat ada pesta tahun baru di rumahnya. 

Tim yang shock mulai bertanya-tanya untuk apa sebenarnya kemampuan itu. Sang ayah dengan bijak dan sedikit konyol mengingatkan Tim untuk senantiasa hati-hati dengan gift nya tersebut. Banyak lelaki di keluarga besarnya yang hidupnya berantakan atau bahkan kewarasannya terganggu akibat serampangan jalan-jalan ke masa lalu. Dasar Tim yang memang aslinya lugu dan sedikit naif, dia bilang ke ayahnya kalau dia hanya ingin menggunakan kekuatannya untuk mencari cinta. Cheesy? Hmmm, super!

His first try adalah mencoba merubah keadaan di masa lalu agar cinta pertama-nya mau menerima cintanya. Sayang, bahkan merubah masa lalu pun tidak bisa membuat seseorang lantas jatuh cinta kepadamu. Mungkin itu pesan pertama yang saya tangkap di film ini. 

Singkatnya, Tim pindah ke London untuk mengejar karir sebagai pengacara muda. Seperti yang sudah bisa diduga, there he found love and he messed it up by helping a friend in need, same old.. same old... 
Adalah seseorang yang lugu, manis, agak quirky bernama Mary (Rachel McAdams) yang menjadi wanita idaman Tim kali ini. Dari pertemuan pertamanya yang manis, sampai proses Tim menemukan kembali Mary karena keteledorannya yang membuat Mary sempat tidak eksis di kehidupannya, manjadi krisis pertama dari Tim's time-travelling experience.

The rest of the movies, mata saya seperti digelayuti mimpi tak berkesudahan tentang manisnya pasangan Tim dan Mary. Saat mereka memutuskan tinggal bersama, saat Tim melamar Mary, Mary yang diterima dengan sangat baik oleh keluarga Lake, hari pernikahan mereka yang lucu sampai saat putri pertama mereka lahir. Welcome to the love-tale ala Richard Curtis. Pokoknya semua berjalan rapih dan menyenangkan buat Mary dan Tim.

Konflik yang mulai serius ditunjukkan oleh beberapa kejadian yang membuat Tim sadar kalau kemampuan time-travelling nya memiliki keterbatasan. Pada akhirnya Tim harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia pun tidak bisa memilih untuk menyelamatkan ayahnya yang didiagnosa kanker stadium akhir. Karena hidup bukanlah berbalik ke belakang namun terus melangkah ke depan

Jujur film ini jauh sekali dari kata sempurna. Banyak adegan yang janggal dari time-travelling issue nya dan plot yang terlalu dipaksa dipercepat, seperti saat Tim diberitahu masalah kemampuan khususnya. Beberapa karakter yang harusnya menonjol juga malah kecil porsinya. Karakter adik Tim yang hippie-perky-quirky, Kit-kat (Lydia Wilson), kurang diasah lebih dalam padahal sangat berpotensi untuk memunculkan konflik yang lebih menarik.


Alur juga terasa sangat santai. All is about the lovey dovey of love and life. Saya sih lumayan enjoy cause I'm a big lover of this genre, tapi buat sebagian orang mungkin akan terasa jengah dan membosankan.

Namun tetap saja, king Richard Curtis selalu memberikan 'sesuatu' di akhir filmnya. 'Sesuatu' yang membuat kita merenungi hidup pada akhirnya. Hubungan Tim dan sang ayah benar-benar bikin saya nangis dayak. Satu yang pasti, setelah nonton film ini, saya jadi lebih mensyukuri hidup dan tentunya jadi lebih sayang keluarga. Totally recommended movie, over all!


"The truth is, I now don't travel back at all. Not even for the day.
I just try to live every day as if I've deliberately come back to this one day, to enjoy it as if it was the full final day of my extraordinary, ordinary life." - Tim Lake




Director: Richard Curtis
Writer: Richard Curtis
Starring: Domhnall Gleeson, Rachel McAdams, Bill Nighy, Lydia Wilson, Tom Hollander, Margot Robbie, Vanessa Kirby
Release Date: Nov. 1, 2013


xoxo,




Wednesday, 1 January 2014

NYE

“Aku pengen tahun baruan sama kamu,” Tulismu di pesan singkat yang kamu kirim padaku di sore hari tanggal 31 Desember. Malam pergantian tahun.

Maka dengan wajah berbinar kita pun bertemu. We really were in good mood. Pusat perbelanjaan tempat kita bertemu sore itu sepi sekali. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keriaan tahun baru. Di sebuah kafe kita pun melakukan branstorming dadakan, akan ke mana lagi kita setelah ini. Sesekali menyelipkan cerita-cerita ala kita yang kadang konyol, kadang enlightening, kadang juga ngga jelas juntrungannya. Still, I like those chit-chats between us a lot.

Kamu bercerita tentang keluargamu, tentang keponakan-keponakanmu, tentang kakakmu yang punya niatan untuk memulai bisnis bersamamu. Tapi pembicaraan kalian tidak menemui titik akhir pada akhirnya karena kalian pun bingung mau bisnis apa. Lagi-lagi ngga jelas juntrungannya kan! Dasar kamu!

Aku coba memberi ide-ide bisnis yang unik dan aneh yang mungkin bisa jadi inspirasi buat kamu. Entah bisa membantu atau tidak. Sorry, I’m not into business, jadi sorry kalau ideku kacangan. Hahaha…

Ganti topik. Aku mengungkit lagi tentang masalah novel-mu yang sudah kamu selesaikan namun belum rampung ku-edit. Tiba-tiba kamu semangat lagi untuk menyelesaikan buku itu secepatnya dan mulai untuk mencoba mempublikasikannya. Sebelumnya kan kamu sempat patah semangat karena aku bilang terlalu banyak EYD yang salah dan harus diperbaiki (Lagi-lagi maaf, ya kalau bikin kamu jadi ngga pede dengan bukumu).

Kita pun berangan-angan seandainya buku itu bisa di-publish dan dapat mendatangkan keuntungan materi untuk kita. Mulai lah rencana setengah gila-mu untuk backpacking ke Thailand. Ya ampun, Thailand! Pengen banget aku ke sana! Aku mulai jatuh juga dalam angan-anganmu itu.

Kita susun rencana. Kapan aku akan resign dari kantor. Kapan kamu juga akan ikut resign kalau kamu tidak jadi dimutasi ke Negara lain. Wah, rencana kita mulai rapih. It even starts to sound possible.

Sore pun makin malas dan mulai menenggelamkan matahari. Bosan hanya duduk saja di kafe, kita pun memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran mall. Ke toko buku kita singgah. Seperti biasa, aku dan kamu selalu sibuk dengan dunia masing-masing jika sedang ada di toko buku. Biasanya kamu suka ke display buku-buku bisnis, majalah atau apapun yang aku ngga ngerti buku-buku apa itu yang kamu cari. Aku seperti biasa setia di jalur fiksi, novel, sastra. Sesekali melipir ke tempatmu untuk menggerecoki keseriusanmu mencari buku-buku aneh. Terbukti, tiba-tiba sore itu kamu serius mencatat beberapa nama-nama anak dari sebuah buku.
“Kamu hamilin anak orang, bang?” Asal saja kutanya. Kamu terkekeh.
“Masa kalau aku hamilin anak orang masih bisa jalan-jalan sekarang.”
“Terus ngapain nyari nama-nama anak?”
“Buat nama produk.”

Selang beberapa lama aku mulai merengek kelaparan. Kita pun makan sejenak di area foodcourt sederhana.

Selesai makan kita mulai brainstorming lagi akan ke mana setelah ini. Masih ada sekitar 4-5 jam lagi sebelum tahun berganti.

Ide-ide standar seperti karaoke, nongkrong di kafe yang ada live music, keluar dari mulutmu dan mulutku. Akhirnya kita memutuskan keluar mall untuk melihat keriuhan acara Jakarta Night Festival yang malam itu baru pertama kali diadakan di Jakarta.

Sepanjang jalan dari Senayan sampai ke Sudirman-Thamrin sudah ditutup agar warga bisa berjalan kaki dan menikmati car free night pertama di kota ini. Gerimis yang turun lama-lama mulai agak lebat jatuhnya. Ini kesekian kalinya kita berdua berjalan di bawah air hujan. Tanganmu merangkul pundakku, dan aku memeluk pinggangmu. Kita mulai lagi rutinitas main trivia games yang ngga penting ala kamu.

Semakin jauh jalan, semakin tidak jelas saja arah tujuan kita. Malah kita sempat mampir lagi ke sebuah mall, mencari kafe yang ada live music-nya karena kita sudah lelah jalan dan hujan makin lebat. Akhirnya kita keluar mall dan lanjut jalan lagi.

Kamu tiba-tiba teringat akan sebuah lounge & bar yang ada di dekat situ. Dengan semangat ’45 dan karena ada sedikit kejelasan di malam random ini, kita pun bergegas ambil langkah menuju tempat yang kamu maksud.

Lucunya sampai di sana, lounge itu ramai sekali. Masuknya bayar pula! Ha, aku dan kamu mulai pikir-pikir. Brainstorming lagi, boss! Malas banget kan kalau harus bayar hanya untuk desak-desakan di dalam lounge itu. Pelarian kita pun akhirnya ke sebuah kafe lagi yang kebetulan ada tidak jauh dari situ. Ngobrol ngalor ngidul lagi. Karena lapar, aku memesan kudapan manis, sedangkan kamu tetap setia dengan es teh manis.
Kala itu, kira-kira satu jam sebelum pergantian tahun. Topik pembicaraan kita entah bagaimana telah sampai ke issue maha serius di penghujung tahun: Resolusi.

Kita pun sepakat menuliskan masing-masing 10 resolusi tahun baru dengan singkatan-singkatan aneh. Aku lantas mengirimkannya via layanan pesan singkat ke nomor ponsel mu, pun kamu sebaliknya. Sambil tertawa cekikikan, kita membahas 3 saja dari masing-masing daftar resolusi.

Highlight dari resolusi ku adalah “DBFKLNHKCAI” singkatan super penting dari “Dapat Beasiswa Full ke Luar Negeri Hopefully ke Cina atau Inggris”. Kalau highlight resolusi mu adalah “FB” dan “FKE”, yang kalau diterjemahkan menjadi “Pengen Bisnis” dan “Pengen ke Eropa” (note: saat itu tombol huruf P di ponselmu rusak sehingga tiap kamu mau mengetik P jadi terpaksa mengetik F).

Anyway, we were so damn naive and felt so burdenless that night.

Bosan duduk duduk saja, kamu mengusulkan untuk karaoke sekalian jumpa sepupumu yang mendadak minta bertemu. Dengan sedikit tergesa kita mencari taxi dan menuju ke area karaoke yang sudah seperti taman bermain kita saat itu saking akrabnya. “Balik-balik ke sini lagi kita! Haha!” serumu, hampir tidak percaya dengan ke-randoman malam itu.

Jalanan Jakarta malam itu terlalu tidak biasa. Sepi dan lengang. 31 Desember paling aneh yang pernah aku alami. Sampai di tujuan, ternyata ada acara countdown di teras tempat hangout tersebut. Kita sampai tepat saat 10 detik sebelum tahun baru. Sambil terheran-heran, kita mencari posisi nyaman untuk berdiri dan menikmati sisa countdown.

5…4…3…2…1… HAPPY NEW YEAR!

Kembang api beragam warna riuh rendah bermekaran di langit. Then, you kissed me underneath it, short yet deep. “Selamat tahun baru”, ucapmu. “Selamat tahun baru, juga”, aku merangkulmu. Lalu kita tertawa terbahak-bahak, menikmati pemandangan spektakuler di atas kita dan menikmati keberadaan masing-masing. Masih tak percaya akan keanehan malam itu.

Tahun yang baru baru saja dimulai. Dan kita pun bernyanyi sampai larut...

Malam yang sama mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Mungkin juga kamu sudah melupakannya jauh-jauh hari. Tidak denganku. Aku yang aneh ini, mengkhianati hati yang masih saja berusaha untuk melupakan eksistensimu, dan malah mengingat dengan lekat tiap menit kejadian malam itu. Andai saja memori bisa dibekukan dan disimpan, aku akan menyimpannya di sebuah bola Kristal kecil penuh dengan ornamen confetti warna warni, penanda bahwa kisah kita pernah saling mengisi. Kisah yang telah usai namun (setidaknya bagiku) pernah ada.


xoxo,



Wednesday, 27 March 2013

Sudahkah Sudi?



Karena selama kita ada
Selama itu pula tanda bertanya
Kita memahami, namun menolak untuk mengerti
Seperti matahari yang kadang sinarnya terlalu panas dan menyakitkan kulit
Atau bahkan dirindukan karena sinarnya yang kadang terlalu redup
Bagiku kau adalah matahari dengan fungsi yang tak jauh beda

Kita tidak memaksa
Kita tidak tergesa
Aku berupaya
Kau berencana
Waktu menyiksa
Takdir tertawa

Sudahkah kita bicara?
Sudikah kita menata? 





Kuningan, 26 Maret 2013



(Photo source: Littlemisslove)



Thursday, 21 February 2013

He Loves Me.. He Loves Me Not..


A friend: "If Someone decided to love you, he'd do whatever it takes to be with you. If he decided not to, well, it'd be his loss. Still you should respect it for he might has his very own logically fuckin reasons. It's all that matters for now."




Jakarta, 
February 21st, 2013





Thursday, 31 January 2013

Farid Hardja


Aku merindukan seseorang yang aku jumpai sosoknya setiap hari.

Rasa rindu yang aneh yang senang datang menyergap raga, menyedot segala asa dari sukma dan melumutkan logika yang seharusnya ada.

Aku merindukan sosok yang kadang berada begitu dekat denganku, namun seringnya terasa jauh. Konsep tentang jarak terasa kian abstrak maknanya untukku. Mengalahkan abstraknya imajinasi-ku yang ujungnya masih tetap dia.


Ya, aku rindu dia.


Ada salam dari Farid Hardja,






















Oh… aku rindu…
Katakan padanya aku rindu
Oh burung nyanyikanlah
Katanya padanya aku rindu
Aku rindu...



Salam rindu,




ps: Maaf jika postingan kali ini terlalu cheesy. Everybody loves cheese, right? :)

Sunday, 23 December 2012

So?


What am I doing exactly?

Love has never been this complicated?

Or does love has to be like this? If so, then, what I had been experienced before was not love at all.

Seriously, if only I could surge your brain and pull it out to read what’s on it, I would!

Deep down, we always know we will never work out. But, somehow we keep on going.

I’ve been trying to make distance, but I don’t wanna suffer. Though, I suffer anyway in order to maintain my feelings when we are together.

I always amazed of how you can always get a grip and push your feelings in. While I seem like always be that idiot who’s longing for you every single day.

You said, you try to push your feelings away so I could do that too and eventually also throw my feelings away. Now in reality, it’s not working. So, what would you do to me?

I find it very funny to myself that I can keep it going this far. It’s weird and almost a magical experience for me.

You know, I watch this movie a few times. There’s a line in this movie and it says, “If there’s any kind of magic it must be in attempt of understanding someone and sharing something”.

For me, this magical feeling of me towards you might be the result of me trying to understand you and sharing things with you. Vice versa. You’re also trying to understand me and share things with me, aren't you?

I look forward and I see nothing but this grey thick misty road lie ahead upon us. I would really love to holding hands with you and walk get through that thick mist together. But I’d be fine if you don’t want us to even get started.

Truth is, I just don’t wanna missing out knowing you. I’d rather be hurt like this than have to never find you at all.

I have no bitterness, really. A little bit of obsession maybe, but I don’t have any hopes or agendas towards you.

When I decided to cherish every moment with you, I meant it. I’m willing to take the risk, no matter how painful it is.

I’m sorry for being a train wreck. I’m sorry if I’m too clingy.

Guess I’m just a hopeless romantic, an expert of making a fool out of myself.

I promise to stop. I just don’t know when.



"I won't make excuses. They just all seem useless, you don't have the time. I guess I'll take my chances now that I know love is on the line" - Michelle Featherstone (Careful).






photo source: Deviantart


xoxo,

Wednesday, 5 December 2012

Another (Weird) Evening (With You) ...

Aku duduk di sebuah kursi plastik biru. Di lengan kananku masih menggantung sebuah tas kanvas. Tas kerja kuletakkan di dekat kaki kiri ku. Di pangkuanku, asap mengepul menggoda keluar dari sepiring sate padang yang baru matang.

Kamu duduk persis di sebelah ku, radius jarak kira-kira 10 cm. Kamu duduk di kursi plastik merah. Asap juga keluar mengepul dari mulutmu. Kamu menunggu nasi goreng selesai dimasak.

Kita duduk di pinggir jalan yang sama. Di belakang foodstall yang sama. Entah untuk yang ke berapa kalinya.

"Kamu pernah ngga waktu sekolah dulu, ngerasain sesi pengayaan dari guru?"

"Pernah, pernah.."

"Terus, waktu guru kamu mulai nanya-nanya ke teman-temanmu, kamu merasa pertanyaan-pertanyaannya gampang banget dan kamu pasti bisa jawab. Sampai guru kamu mengajukan pertanyaan yang sulit banget yang kamu ngga bisa jawab. Dalam hati kamu berharap, 'jangan gue, jangan gue yg dapet.. please jangan gueee..'. Tapi ternyata, eh, malah kamu yg dapat."

"Hahaha iya iya pernah banget.."

"Aku seriiing banget ngalamin yang kayak gitu. Sampai sekarang pun masih sama kayaknya."

"Maksud kamu?"

"Iya misalnya sekarang, orang-orang yang ngga aku harapkan tertarik sama aku malah naksir aku, sedangkan yang aku harap-harap malah ngga.."

Aku lirik kamu. Hati-hati melihat ekspresi wajahmu.

"Memang iya ya? Hmmm.. Kenapa ya?"

Geez! I really hate that poker face of yours!

 "Aku rasa aku dikutuk", aku datar kan ekspresi wajah ku sedatar mungkin.

Kamu tergelak.

"Hahaha, kok dikutuk?"

"Iya dikutuk. Habis aneh banget. Aku rasa hukum 'The Secret, Law of Attraction' ngga berlaku sama sekali buat aku ya?"

Aku malas melirik ke kamu lagi. Paling juga datar lagi ekspresimu.


Nasi goreng datang. Kamu girang. Lalu makan.


I wonder, apakah kamu memikirkan kata-kataku saat kamu lahap nasi goreng mu itu?  

I wish...

Hah, dasar gila!


Source: http://fc04.deviantart.net/fs18/f/2007/158/5/b/as_the_evening_falls_by_Linlith.jpg


With love,

Sunday, 18 November 2012

Supposed To...

Supposed to be so easy
Turned out it's a wish merely

Supposed to be harmless
Turned out to be moments of pointless

Supposed to be heaven
Even heaven knows this not it

Supposed to be us
But turned out to be you
And her
Again...

For shortening a supposed to be frantically long great journey,
I supposed to say thank you..



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5Gne0NqdfpRx1yzc1yffcNK4Qkc5iehc80xRZKYqz7Gug94nHwbeWAtJXZe9bRctsrt3tN_ai4h2MUT8az-gYaaYpvpnhiLnHpQGtJagD_SCQTosz4QUTA0Dnb0ElHSPfiHWa0_36Qn8/s1600/5884019D5428C31E6581F83585A20801.png

Saturday, 27 October 2012

Menanti 50:20





Jejak kaki basah dan lengket di ubin putih gading
tersaruk-saruk menahan angin dingin
Berusaha untuk lebih cepat dan lebih cepat
Kejar waktu jangan sampai terlambat


Cepat tak menjamin tidak telat
Yang ditunggu seringnya tak bertemu
Mungkin kalanya tak satu
Tampaknya waktu dan tempat belum mempersilakan
Malah curiga kian memisahkan


Mungkin kalanya belum satu...


Belum..


Satu..


Ah, aku suka kata "belum"
Memberikan perspektif baru, membuka harapan yg sempat terkulum
Menanti jadi terasa kian ber-asa
50:20 ku tunggulah waktunya kita berjumpa






Selasa, Stasiun Sudirman Jakarta, 
25 September 2012




Sunday, 21 October 2012

What is Love?

So, my friend posted this picture on twitter and it simply touches me. Right here *nunjuk ke hati*




So giving love and being loved back is not a hard thing to do. Matter of fact, it seems like the most natural and the easiest thing human can do, though sometimes we forget to put our mind into it. This Emma K., age 6, somehow reminded me of it. :DD



"Love is everywhere. Often it's not particularly dignified or newsworthy, but it's always there. If you look for it, I've got a sneaky feeling you'll find that love actually is all around". (Love Actually - 2003)



Xoxo,


Raisya

Thursday, 23 June 2011

Weird Love

Let's feel a lil' bit of love tonight, shall we??

Siapapun bisa saja jatuh cinta di segala situasi dan kondisi. Banyak banget yang udah ngerasain. They feel weird, but it's love anyway. The weirdest feeling a human could have.

Contohnya nih, teman saya yang namanya Wisma. Dia pernah aja loh jatuh cinta sama mahasiswa asing cuma gara-gara sebuah kontak singkat di gang sempit deket kampus.

Jadi si Wisma ini lagi jalan disitu dan di depannya ada lelaki itu. Tiba-tiba si lelaki itu hampir kesandung dan hampir jatuh dia. Sayangnya (loh??) dia ga jatuh beneran.

Sontak si Wisma langsung bilang, "Hati-hati..".

Si lelaki asing ini menjawab dengan bahasa Indonesianya yang patah-patah, "Terima kasih..".

Duaaarrr! jadilah si Wisma jatuh cinta sama si lelaki ini. Kebetulan mereka satu fakultas dan agak sering ketemu.

Tapi sayang beribu sayang, mungkin itulah kontak mereka yang pertama dan terakhir karena si Wisma pun ga berani ngajak kenalan atau negur duluan. Pity, huh?

Contoh kasus lain, dari teman saya yang lain yang namanya Randu.
Dia pernah jatuh cinta sama anak jurusan lain di kantin cuma gara-gara ngeliat dia cool banget pas lagi bawa piring yang isinya nasi goreng!

Absurd? Hell yeah.

Kalo kata si Randu sih, cowo ini auranya keliatan gimana gitu pas lagi dengan gayanya bawa piring nasi goreng. Untungnya si cowo ini mahasiswa ko, bukan mas-mas pedagang kantin :p

Mungkin ga terbersit bagi Randu atau Wisma atau siapapun itu buat ngalamin jatuh cinta dalam keadaan se-absurd itu.

Bukan dengan cowo yang lagi main band dan terlihat sangat cool atau cowo yang sedang olahraga dan terlihat manly serta karismatik.

Bukan!

Mereka jatuh cinta dengan cowo yang hampir nyungsep di gang dan cowo yang dikira pedagang nasi goreng.

Ehem, saya sendiri juga punya pengalaman yang serupa. Yah mungkin ini ga se-absurd pengalaman-pengalaman di atas sih, tapi buat saya ini lumayan aneh.

Jadi waktu SMA, saya pernah jatuh cinta sama cowo waktu dia lagi ngerokok.

I know. Wtf.

Waktu itu saya lagi dalam acara semacam KKN di sebuah desa di Jawa Barat. Kebetulan saya dan cowo itu satu kelas dan saat itu kita serombongan lagi jalan-jalan di daerah persawahan. Ada daerah yang sangat curam di situ tapi kita semua harus lewat supaya bisa ke tempat selanjutnya.

Di saat seperti itu tentunya fungsi lelaki sangat bisa diandalkan donk yah. Anak-anak lelaki dengan sigap ngebantuin cewe-cewe lewat situ.

Si cowo ini kebetulan bantuin saya, dan saat lagi bantuin saya kebetulan dia lagi menikmati sebatang rokok di mulutnya.
Entah karena dia ngerokoknya penuh gaya atau gimana, pokoknya saat itu saya merasa si cowo ini terlihat sangat cool dengan sebatang rokok di mulut dan dengan kekuatan prianya membantu cewe-cewe untuk lewat daerah curam tersebut.
Manly gimana gitu..

Yang bikin tambah aneh adalah, karena saya bukan perokok dan bahkan agak sensi kalo liat ada yang ngerokok di deket-deket saya.
Tapi sejak saat itu pandangan saya benar-benar berubah. Tenyata mitos yang bilang cowo perokok terlihat lebih cool ada benarnya juga. Terutama dalam momen itu, bagi saya.

Well, sekali lagi. Love is anywhere and could happen anytime even in the weirdest moment. Let Aphrodite herself decides.



Mungkin ada yang punya pengalaman jatuh cinta lebih absurd daripada kisah-kisah di atas? monggo loh kalo mau sharing hehe :DD

Sekian dan terimakasih.



xoxo,






Friday, 14 January 2011

Surat Untuk Ibu

Bu,
Cuma mau bilang..
Sebulan ini ibu menyebalkan sekali!

Ibu suka memarahiku tanpa alasan yang jelas.
Kalau kukritik ibu juga tidak suka.
Kata ibu, aku tidak boleh menjawab omelanmu.
Mengapa?
Karena aku adalah anak.
Loh?
Memang anak tidak punya mulut? kataku dalam hati.

Biar begitu, aku ko sayang ya sama ibu?
Sepertinya aku tidak bisa hidup tanpa ibu.
Sepertinya loh...

Habis kalau tidak ada ibu, tidak akan ada yang mebuatkanku makanan-makanan enak.
Kalau tidak ada ibu, tidak akan ada yang membangunkanku di pagi hari.
Kalau tidak ada ibu, tidak akan ada yang menyisiri rambutku setelah mandi.

Tapi ibu,
Terkadang seorang ibu pun bisa lebih kekanakan daripada anaknya sendiri.
Sadar tidak? Ibu pun juga kadang seperti itu.
Kekanak-kanakan...

Ibu,
Tolong jangan marahi aku karena menulis surat ini ya.
Aku menulis ini, karena aku sayang ibu.
Ah, tidak. Aku mencintai ibu!
Mungkin karena aku adalah anak, jadi aku (terpaksa) mencintai ibu.


Dengan segala hormat,
Anakmu.

Thursday, 13 January 2011

Masih Kamu Mr. M..

Ya, semua masih tentang kamu Mister. Sudah 7 tahun lamanya aku berbagi kisah kita berdua kepada lembaran-lembaran kertas. Kisah yang kebanyakan sih hanya rekaanku semata, tapi cukup ko membuatku bahagia.



Apa kabarmu disana Mister? Aku dengar kuliahmu sudah akan rampung dan sebentar lagi kau akan menjadi sarjana. Aku yang memujamu disini sangat bangga padamu.



Bagaimana kabar kekasihmu, Mister? Masih sayangkah kau dengannya? Sesungguhnya aku sangat penasaran mengapa kau bisa secinta itu padanya. Bagaimana dengan ku? Tidakkah kau merasa aku juga pantas engkau cinta?



Ah, sebenarnya aku malas meracau tentang kekasihmu itu. Maaf yah… tapi di dalam hatiku yang paling dalam aku kagum pada kekasihmu karena wanita itu dapat membuat lelaki luar biasa sepertimu jatuh cinta padanya. Tapi kagum dan iri hanya dibatasi oleh selaput tipis yang lebih tipis dari bulu kakimu, jadi baiklah, kau bisa bilang aku iri. Iri setengah mati!



Dulu, saat 2 tahun hubungan kita (baca: aku dan lembaran-lembaran kertas bertuliskan namamu), entah mengapa aku sangat yakin kau akan menjadi mempelai priaku. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Konyol? Atau menyedihkan? Tak apa… aku tidak pernah merasa cintaku padamu ini konyol atau menyedihkan kok.



Tenang saja, Mister. Cintaku padamu ini bukanlah ambisi. Aku tidak akan menerormu seperti banyak wanita lain itu. Aku juga tidak berniat mengganggumu dan kekasihmu itu. Aku hanya akan tetap memantaumu dari kejauhan. Sama seperti 7 tahun ini dan siapa yang tahu, mungkin akan berlanjut sampai 7 tahun selanjutnya.



Okelah, Mister. Segitu dulu acara nge-date kita di kertas nomor 473 ini. Doakan aku agar aku dapat menemukan Mr. M yang lain ya. Sesungguhnya aku bosan pacaran dengan kertas, walaupun entah mengapa aku terus melanjutkannya.



Ps: Kalau putus kabari aku ya! ;p



xoxo,