Showing posts with label Little Pieces. Show all posts
Showing posts with label Little Pieces. Show all posts

Monday, 4 May 2015

Untitled




Just like the wheel, life keeps on rolling. One person can't be in tears all the time, while the happiness is not forever either.
Time is changing. Time is everything.
When you're happy, remember the times when you're broken down.
When you're sad, remember the times of glory you've had.

'Cause life ain't fair and everybody's been there.

As charming as life could be, we'll be taking the journey. Yes, we. You and I versus the world, versus the time, versus everything we've known including ourselves.
Fight the good battle. You and I know it even what's better to fight for.
Doubts will become our ghosts, walking along our way, appear and disappear faster than our shadows.

Never be afraid, my love. I'm as weak as you are. And together we're not the brightest. So, walk with me, my love. For what its worth, for the sake of ourselves.

This is not the vow. It's an unbreakable thing that I don't know what to call. 




Jakarta,
May 2015

Thursday, 3 April 2014

Stuff


"And that’s how it goes, Kids. The friends, neighbors, drinking buddies and partners in crime you love so much when you’re young, as the years go by, you just lose touch.You will be shocked, Kids, when you discover how easy it is in life to part ways with people forever.That’s why when you find someone you want to keep around, you do something about it."
[Ted Mosby – How I Met Your Mother S09x21]

Those lines of words got me thinking of each person that has existed in my life. How long I’ve known them. The ones who stay.. The ones who left…

As I list every friendship/relationship I’ve had, it occurs to me that I’m so blessed to be surrounded by some of the best people on earth. And surprisingly, I manage to keep many of those relationships. Teman SD, SMP, SMA, kuliah and even colleagues from work that I consider now as my new brothers and sisters.
And I’m planning to keep them around for a long long time. J

Sure, some of the most personal relationships didn’t work out and I let it go. Though I’ve to admit that I work so hard to keep the last one. I got myself thinking that we can’t make people stay if they don’t have any guts to stay. But then, I rethink again, as quoted from Mosby himself that, when you find someone you want to keep around, you do something about it. So, I think it's clear now why I keep him around my nerves after all..

Humans don’t have so much time on earth. To make it even enough would be a miracle. Some people call it joy when they can have it spent with their loved ones. And as you’re getting older you would find your time is too precious to waste it with things you don’t like, or to even pretend.



xoxo,




Thursday, 27 February 2014

Kisah Gadis Pemalu dan Lelaki Pengganggu

Alkisah di sebuah taman kecil di belahan lain sebuah kota yang tidak terlalu ramai dengan manusia, seorang gadis biasa duduk dan menatap kosong ke depannya. Ada seorang lelaki yang sedang tertawa bahagia bersama temannya. Entah apa yang ia tertawakan sampai giginya kelihatan semua.

Sang gadis tiba-tiba tersipu. Entah apa itu, yang jelas senyum lelaki itu sangat lucu.

Sadar diperhatikan, lelaki mulai berlagak. Tertawanya jadi dibuat-buat, terdengar seperti suara burung gagak. Ia memberitahu temannya bahwa ada gadis manis yang memantau mereka dari kejauhan.

Sang gadis masih berusaha menyembunyikan rona merah pipinya. Ia lantas membuka buku yang dibawanya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Tiba-tiba seseorang datang duduk di sebelahnya. Lelaki itu! Hati sang gadis jadi tak menentu. Karena salah tingkah ia bersiap angkat kaki seribu.

Si lelaki pengganggu diam saja. Niat menggangu saja yang dia punya. Namun begitu dia melihat si gadis akan segera pergi, dia segera ambil aksi.

Lelaki bertanya tentang buku yang dibaca si gadis. Si gadis tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Si lelaki bertanya lagi mengapa ia sendirian. Sang gadis hanya mengangguk sopan.

Karena penasaran dan kesal, si lelaki sontak nyeletuk, “cantik-cantik kok gagu, Mbak?”

Si gadis terkejut, namun dengan tenang dia mengambil secarik kertas dan pena dari dalam tasnya, dan menulis,

“Maaf, saya memang gagu alias tuna wicara :)”.

Ia selipkan kertas tersebut di tangan sang lelaki, kemudian dia angkat kaki.

Sang lelaki membeku setelah membaca pesan itu. Wajah sampai telinganya memerah karena malu. Ingin dia kejar si gadis itu, tapi apa daya, lidah pun tubuhnya sudah kelu.

Dari jarak 10 meter setelah meninggalkan si lelaki, sang gadis menoleh dan tertawa nyaris terbahak.

“Maaf ya, saya terlalu pemalu untuk bicara sama kamu…” ujarnya pelan.

“Gilaaa.. ngga lagi-lagi gue gangguin cewek sembarangan”, gerutu si lelaki dari kejauhan.


 ~fin~



xoxo,


Wednesday, 12 February 2014

'If I were to Send You a Letter, This Would be it’

I found this poem from Lang Leav's blog. Well, she's one of the most pop poets right now, so yes, I'm kinda into her.

This miserable, desperate yet beautiful poem talks about letting go of the dearest one at your life. I've been quite familiar with the topic of moving on, letting go and stuff like that for like, one year now. But this poem practically gives me goosebumps every time I've chance to read it.

It's not mostly about unrequited love or like that harsh broken heart. What amazed me the most is how you can turn a sad goodbye, that miserable feeling of letting go, to be one of the moment that deserves to be preserved, to be remembered as good as it got.

No hatred, no regrets, only that sad emotion of joy..



'If I were to send you a letter, this would be it’


I guess this could be both a goodbye and a hello,
 a soft goodbye because I know this letter marks the last time you will ever think of me,
 and a hard hello because you cannot simply fathom the amount of missing you that has taken place
 In this hollow heart of mine.
  
Because every night I discover you in a new and brilliant way.

Your name is painted in a delicate red under the tight seams of the wallpaper I put up after you left. 
 The ripped up poetry pages you kept are still in my trash can since it has not yet been a full week

Since I destroyed every physical memory of you. 
The roses you bought me which were intended to help stifle the pain of our breakup
only renew it in the most hateful way possible.


Obviously I still think of you though 

You are the chemical ingredients which make me feel miserable
 You are the cracks in my bones which grow with every passing hour
 You are the hour, the minute and the second hand
Always chipping away at the few hours of sanity I have left. 
And you are the rose petals in my tea

Marking the death of another far off love that couldn’t have been quite as extraordinary as ours. 
Yet I find myself thinking 
 If I could just let go of all of these things then maybe 
 Just maybe, I can let go of you too.
 So I have decided to leave 
 to leave this apartment which is only a graveyard of short-lived memories
 And to move to another country
 And maybe then I will finally be happy. 

I will write more and read more, paint and take more photographs, and hopefully fall in love, one last time.

 But if that makes you sad just know this;
 I will still find you in some way, whether it be the touch of the cold rain or silent kiss of soft snow 
 or even the whisp of sheets which surround me as I sleep 

And it will be these moments, these soft goodbyes and hard hellos 
Which I will live for

When my next lover becomes eternally reckless with my crystal heart...



— Grayson Herrg, “If I were to write you a letter this would be it” (via Langleav's blog)



xoxo,

 



Wednesday, 1 January 2014

NYE

“Aku pengen tahun baruan sama kamu,” Tulismu di pesan singkat yang kamu kirim padaku di sore hari tanggal 31 Desember. Malam pergantian tahun.

Maka dengan wajah berbinar kita pun bertemu. We really were in good mood. Pusat perbelanjaan tempat kita bertemu sore itu sepi sekali. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keriaan tahun baru. Di sebuah kafe kita pun melakukan branstorming dadakan, akan ke mana lagi kita setelah ini. Sesekali menyelipkan cerita-cerita ala kita yang kadang konyol, kadang enlightening, kadang juga ngga jelas juntrungannya. Still, I like those chit-chats between us a lot.

Kamu bercerita tentang keluargamu, tentang keponakan-keponakanmu, tentang kakakmu yang punya niatan untuk memulai bisnis bersamamu. Tapi pembicaraan kalian tidak menemui titik akhir pada akhirnya karena kalian pun bingung mau bisnis apa. Lagi-lagi ngga jelas juntrungannya kan! Dasar kamu!

Aku coba memberi ide-ide bisnis yang unik dan aneh yang mungkin bisa jadi inspirasi buat kamu. Entah bisa membantu atau tidak. Sorry, I’m not into business, jadi sorry kalau ideku kacangan. Hahaha…

Ganti topik. Aku mengungkit lagi tentang masalah novel-mu yang sudah kamu selesaikan namun belum rampung ku-edit. Tiba-tiba kamu semangat lagi untuk menyelesaikan buku itu secepatnya dan mulai untuk mencoba mempublikasikannya. Sebelumnya kan kamu sempat patah semangat karena aku bilang terlalu banyak EYD yang salah dan harus diperbaiki (Lagi-lagi maaf, ya kalau bikin kamu jadi ngga pede dengan bukumu).

Kita pun berangan-angan seandainya buku itu bisa di-publish dan dapat mendatangkan keuntungan materi untuk kita. Mulai lah rencana setengah gila-mu untuk backpacking ke Thailand. Ya ampun, Thailand! Pengen banget aku ke sana! Aku mulai jatuh juga dalam angan-anganmu itu.

Kita susun rencana. Kapan aku akan resign dari kantor. Kapan kamu juga akan ikut resign kalau kamu tidak jadi dimutasi ke Negara lain. Wah, rencana kita mulai rapih. It even starts to sound possible.

Sore pun makin malas dan mulai menenggelamkan matahari. Bosan hanya duduk saja di kafe, kita pun memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran mall. Ke toko buku kita singgah. Seperti biasa, aku dan kamu selalu sibuk dengan dunia masing-masing jika sedang ada di toko buku. Biasanya kamu suka ke display buku-buku bisnis, majalah atau apapun yang aku ngga ngerti buku-buku apa itu yang kamu cari. Aku seperti biasa setia di jalur fiksi, novel, sastra. Sesekali melipir ke tempatmu untuk menggerecoki keseriusanmu mencari buku-buku aneh. Terbukti, tiba-tiba sore itu kamu serius mencatat beberapa nama-nama anak dari sebuah buku.
“Kamu hamilin anak orang, bang?” Asal saja kutanya. Kamu terkekeh.
“Masa kalau aku hamilin anak orang masih bisa jalan-jalan sekarang.”
“Terus ngapain nyari nama-nama anak?”
“Buat nama produk.”

Selang beberapa lama aku mulai merengek kelaparan. Kita pun makan sejenak di area foodcourt sederhana.

Selesai makan kita mulai brainstorming lagi akan ke mana setelah ini. Masih ada sekitar 4-5 jam lagi sebelum tahun berganti.

Ide-ide standar seperti karaoke, nongkrong di kafe yang ada live music, keluar dari mulutmu dan mulutku. Akhirnya kita memutuskan keluar mall untuk melihat keriuhan acara Jakarta Night Festival yang malam itu baru pertama kali diadakan di Jakarta.

Sepanjang jalan dari Senayan sampai ke Sudirman-Thamrin sudah ditutup agar warga bisa berjalan kaki dan menikmati car free night pertama di kota ini. Gerimis yang turun lama-lama mulai agak lebat jatuhnya. Ini kesekian kalinya kita berdua berjalan di bawah air hujan. Tanganmu merangkul pundakku, dan aku memeluk pinggangmu. Kita mulai lagi rutinitas main trivia games yang ngga penting ala kamu.

Semakin jauh jalan, semakin tidak jelas saja arah tujuan kita. Malah kita sempat mampir lagi ke sebuah mall, mencari kafe yang ada live music-nya karena kita sudah lelah jalan dan hujan makin lebat. Akhirnya kita keluar mall dan lanjut jalan lagi.

Kamu tiba-tiba teringat akan sebuah lounge & bar yang ada di dekat situ. Dengan semangat ’45 dan karena ada sedikit kejelasan di malam random ini, kita pun bergegas ambil langkah menuju tempat yang kamu maksud.

Lucunya sampai di sana, lounge itu ramai sekali. Masuknya bayar pula! Ha, aku dan kamu mulai pikir-pikir. Brainstorming lagi, boss! Malas banget kan kalau harus bayar hanya untuk desak-desakan di dalam lounge itu. Pelarian kita pun akhirnya ke sebuah kafe lagi yang kebetulan ada tidak jauh dari situ. Ngobrol ngalor ngidul lagi. Karena lapar, aku memesan kudapan manis, sedangkan kamu tetap setia dengan es teh manis.
Kala itu, kira-kira satu jam sebelum pergantian tahun. Topik pembicaraan kita entah bagaimana telah sampai ke issue maha serius di penghujung tahun: Resolusi.

Kita pun sepakat menuliskan masing-masing 10 resolusi tahun baru dengan singkatan-singkatan aneh. Aku lantas mengirimkannya via layanan pesan singkat ke nomor ponsel mu, pun kamu sebaliknya. Sambil tertawa cekikikan, kita membahas 3 saja dari masing-masing daftar resolusi.

Highlight dari resolusi ku adalah “DBFKLNHKCAI” singkatan super penting dari “Dapat Beasiswa Full ke Luar Negeri Hopefully ke Cina atau Inggris”. Kalau highlight resolusi mu adalah “FB” dan “FKE”, yang kalau diterjemahkan menjadi “Pengen Bisnis” dan “Pengen ke Eropa” (note: saat itu tombol huruf P di ponselmu rusak sehingga tiap kamu mau mengetik P jadi terpaksa mengetik F).

Anyway, we were so damn naive and felt so burdenless that night.

Bosan duduk duduk saja, kamu mengusulkan untuk karaoke sekalian jumpa sepupumu yang mendadak minta bertemu. Dengan sedikit tergesa kita mencari taxi dan menuju ke area karaoke yang sudah seperti taman bermain kita saat itu saking akrabnya. “Balik-balik ke sini lagi kita! Haha!” serumu, hampir tidak percaya dengan ke-randoman malam itu.

Jalanan Jakarta malam itu terlalu tidak biasa. Sepi dan lengang. 31 Desember paling aneh yang pernah aku alami. Sampai di tujuan, ternyata ada acara countdown di teras tempat hangout tersebut. Kita sampai tepat saat 10 detik sebelum tahun baru. Sambil terheran-heran, kita mencari posisi nyaman untuk berdiri dan menikmati sisa countdown.

5…4…3…2…1… HAPPY NEW YEAR!

Kembang api beragam warna riuh rendah bermekaran di langit. Then, you kissed me underneath it, short yet deep. “Selamat tahun baru”, ucapmu. “Selamat tahun baru, juga”, aku merangkulmu. Lalu kita tertawa terbahak-bahak, menikmati pemandangan spektakuler di atas kita dan menikmati keberadaan masing-masing. Masih tak percaya akan keanehan malam itu.

Tahun yang baru baru saja dimulai. Dan kita pun bernyanyi sampai larut...

Malam yang sama mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Mungkin juga kamu sudah melupakannya jauh-jauh hari. Tidak denganku. Aku yang aneh ini, mengkhianati hati yang masih saja berusaha untuk melupakan eksistensimu, dan malah mengingat dengan lekat tiap menit kejadian malam itu. Andai saja memori bisa dibekukan dan disimpan, aku akan menyimpannya di sebuah bola Kristal kecil penuh dengan ornamen confetti warna warni, penanda bahwa kisah kita pernah saling mengisi. Kisah yang telah usai namun (setidaknya bagiku) pernah ada.


xoxo,



Monday, 22 April 2013

Come Here...

One of my favorite scenes of all time. Taken from the year of 1995 from the movie "Before Sunrise". The song's called "Come Here", sung by American old singer Kath Bloom. The lyric is so beautiful that it could put you in a few minutes of total silence. Also, the exchanging glance between Jesse and Celine, it's a definete concept of admiration (or love?) without words.


 


There's wind that blows in from the north.
And it says that loving takes this course.
Come here. Come here.
No I'm not impossible to touch I have never wanted you so much.
Come here. Come here.
Have I never laid down by your side.
Baby, let's forget about this pride.
Come here. Come here.
Well I'm in no hurry. Don't have to run away this time.
I know you're timid.
But it's gonna be all right this time..




*absolute silence*








Tuesday, 9 April 2013

Selamat Datang di Kapal Nomor 24


So, yesterday marked the day of my 24th birthday. Yayness!


Step into this 24th year of my life makes me kinda happy and sad, both at the same time. Maybe I’m just having too much Chicklit to read, but this really feels like an early mid-life crisis thingy (sok tua..).


I’m happy, literally. I earn just enough money on my own now, I have a real job (more on this later hmmm…), I still have my family completely to support me, physically and mentally, my friends are everywhere and I can count on them anytime, I’m perfectly healthy (just some holes in teeth might hurt me sometimes and maybe I just have to reduce my glucose-consuming). See? I’m perfectly happy. At a glance, sure.


I also feel that I’m being wiser now as I’m growing older. My way of thinking, handling problems, I think it’s getting better. I see life and destiny a little bit differently than before (thanks to that man, matter of fact).


Then, reality bites. I feel like I’m heading nowhere in this 24 years old me. The 14 years old me might never have imagined the present me to have a life like this now.


If I sort things through, I’d call this feeling of mine as insecurity rather than sadness.


After graduating, it was only around a month of spare time before I officially got a job.  So everything is kinda in a rush, yes. But if I look back then, I really needed money at that time, so like a hyena sees a cute bambi, I just grabbed that job to fulfill my needs.


Later on, here I am, after 7-8 months, stuck at this company. So many things go wrong in this company, to be honest, and if I ever resign at the soonest, it’d maybe because the crap management in a whole. I might could have myself improved in this company, it is really possible. Somehow, I can even put myself in a very strategic position if I hang on there. But the thing is, this company is just not my thing. I mean, deep down I always realize that I’m not really into a money-making business field. At least not this much.


After all, I’m a Freshgrad and I really think I should hang on there for at least a year for my resume’s sake. Right now, I have to figure out the way to survive for the next 3-4 months and it’s freaking hard. It’s getting harder to even wake up in the morning, take a crappy train to go to work and face the chaotic Jakarta every single day. Luckily, I still have bunch of really good friends in office and they are good reasons to have good laughs everyday, so technically, I’ve been saved.


And apparently, I can't move out just yet, cause I’m still waiting for a scholarship announcement. Yes, I’m applying for another one this year, and I kinda put a big of hope in it. So fingers crossed and wish me luck!

Another thing that is going nowhere is my love life. We really never know who’s gonna chosen by our heart, yes? I never thought I could really fall hard upon that weird man, and what’s worse is now I’m stuck. It’s so not me. Normally, I’m just gonna leave out of a relationship that is going nowhere. I don’t even know what I’m gonna go from here with him. All I know is, I’m in that so-called comfort zone and not wanting to get out from there, not now. Well as a matter of fact, he teaches me a lot, from professionalism (it sucks, but, yes), endless life talk, to the roller-coaster ride of love and romance. All at once, it has been a blessing and sort-of an unfortunate event, really.


The annoying part is the fact that I’m 24 now and my parents is starting to be a little bit restless and keep asking why I never bring a man home ‘cause it’s been a while since my last real relationship. On the last wedding event of my cousin’s, all of my big family wished me a good man to be married with. Based on the age order, it’s supposed to be my wed for the next, so yeah, I really get why my parents keep yapping about it. 


If those things above are the characteristic of an early mid-life crisis, hell yeah, welcome me!
But then, let me blow the candle and make really good wishes for the year ahead.


So, that’s it. Thanks for reading my sappy unimportant curhatan. Later! Ciao!




(photo source: Flickr)




Wednesday, 27 March 2013

Sudahkah Sudi?



Karena selama kita ada
Selama itu pula tanda bertanya
Kita memahami, namun menolak untuk mengerti
Seperti matahari yang kadang sinarnya terlalu panas dan menyakitkan kulit
Atau bahkan dirindukan karena sinarnya yang kadang terlalu redup
Bagiku kau adalah matahari dengan fungsi yang tak jauh beda

Kita tidak memaksa
Kita tidak tergesa
Aku berupaya
Kau berencana
Waktu menyiksa
Takdir tertawa

Sudahkah kita bicara?
Sudikah kita menata? 





Kuningan, 26 Maret 2013



(Photo source: Littlemisslove)



Thursday, 21 February 2013

He Loves Me.. He Loves Me Not..


A friend: "If Someone decided to love you, he'd do whatever it takes to be with you. If he decided not to, well, it'd be his loss. Still you should respect it for he might has his very own logically fuckin reasons. It's all that matters for now."




Jakarta, 
February 21st, 2013





Tuesday, 5 February 2013

Gestalt Theory

Teori Gestalt dikenal juga dengan nama Gestalt Psychology. Teori ini sangat menarik dan, tanpa saya sadari sebelumnya, terjadi di sekitar kita setiap waktu.
 
Secara harafiah, Gestalt yang berasal dari bahasa Jerman berarti "essence or shape of an entity's complete form". Terjemahan bebasnya kurang lebih adalah esensi atau bentuk dari suatu objek dilihat dari keseluruhannya. 

Konsep Gestalt pertama kali dicetuskan oleh filsuf dan psikolog kontemporer bernama Christian von Ehrenfels. Teori-teori dari David Hume, Johann Wolfgang von Goethe, Immanuel Kant, David Hartley, dan Ernst Mach dipercaya mengawali ide dasar konsep Gestalt itu sendiri. 

Pernah dengar ungkapan “The whole being greater than the sum of its parts” ? Kira-kira seperti itulah poin utama teori Gestalt ini. Teori ini menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Itulah selanjutnya pemikiran yang disumbangkan oleh Max Wertheimer. Lebih spesifik lagi, menurut Wertheimer, “Gestalt” sebagai the whole form itu sendiri secara perseptual merupakan yang utama dan akan menjelaskan bagian-bagian yang membangunnya, bukan malah sebaliknya.

“A painting is more than the sum of its parts,' he would tell me, and then go on to explain how the cow by itself is just a cow, and the meadow by itself is just grass and flowers, and the sun peeking through the trees is just a beam of light, but put them all together and you've got magic.” – dari novel Flipped (2010)

Pada prinsipnya, teori ini menekankan agar mata manusia dapat melihat sebuah objek secara keseluruhan sebelum mempersepsikan objek tersebut hanya berdasarkan beberapa bagiannya. Dalam bidang psikologi, Gestalt mencoba untuk memahami hukum dari kemampuan manusia untuk meraih dan mempertahankan persepsi yang stabil di dunia yang penuh ketidakpastian ini. Psikologi Gestalt juga melihat pikiran dan kepribadian manusia sebagai suatu kesatuan. 

Belakangan juga dikenal dengan adanya Gestalt Effect, yaitu kemampuan indera manusia untuk menghasilkan bentuk tertentu. Terutama kemampuan yang dibarengi dengan kemampuan visual manusia untuk mengenali bentuk keseluruhan sebuah benda, daripada hanya melihat ke sekumpulan garis-garis dan kurva-kurva sederhana. 

Berangkat dari sini, saya mau sedikit membicarakan hal yang lebih menarik (dan lebih tidak berbelit-belit tentunya), yaitu Gestalt Pictures.

Gambar Gestalt memiliki ciri unik yang membentuk satu kesatuan, namun untuk menemukan ciri unik tersebut dibutuhkan observasi yang mendalam bahkan ekstrim. Prinsip Gestalt terkadang digunakan dalam desain sehingga menghasilkan sebuah desain yang unik dan seringnya malah membingungkan.
Ambilah contoh lukisan Monalisa yang legendaris, buah karya Leonardo da Vinci. Da Vinci menggunakan prinsip Gestalt saat melukis Monalisa. Lukisan ini kerap membingungkan karena jika dilihat dari satu sisi terlihat seperti wanita yang sedang bersedih, namun jika dilihat dari sisi sebaliknya terlihat si wanita sedang tersenyum. 

 The mysterious Monalisa



Simak gambar-gambar Gestalt lain yang sungguh sangat menarik.

 Woman in vanity... or skull?






 The Four People


 Nenek tua atau gadis cantik?


“Gambar Gestalt adalah gambar beranak gambar, dan yang paling umum adalah gambar Gestalt nenek tua dan gadis cantik. Kedua citra itu hadir sekaligus, dan merupakan satu gambar, tapi kamu tidak bisa melihat keduanya secara bersamaan. Kamu harus memilih satu antara dua sudut pandang untuk menentukan apakah itu nenek tua atau gadis cantik. Setiap kamu melihat gambar Gestalt, kamu harus memilih.” – Cuplikan dari novel Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh.

Menarik bagaimana akhirnya ada dua kesimpulan yang bisa ditarik dari teori Gestalt ini, walaupun sebenarnya dua kesimpulan tersebut menjadi sedikit kontradiktif dari kaca mata saya.

Pertama, sudah jelas, the whole being greater than just the sum of its parts. Anda akan takjub akan apa yang bisa anda temukan secara keseluruhan dari suatu objek, tidak hanya melihat dari bagian-bagian tertentu saja.

Kedua, setelah melihat sebuah objek secara keseluruhan dan menemukan bagian-bagian yang membentuknya, manusia dapat memilih bagian mana yang ingin mereka lihat. Istilahnya, you see what you want to see. Semua kembali kepada pilihan anda. Your choice matters.




xoxo,