"This damn war will never end with a prayer..."
Ada dua alasan utama kenapa saya memilih (lagi) nonton film ini. Pertama, saya memang sedang (berusaha) menghindari film-film drama dan serial-serial yang oh-so-sweet dikarenakan bukan hanya sekarang adalah bulan suci Ramadhan (yes, I avoid those make-out scenes!). Kedua, film ini mengingatkan saya tentang masa-masa kelas Film semester 1 dulu.
Judul film: Voces Inocentes (Innocent Voices)
Sutradara: Luis Mandoki
Skenario: Oscar Torres dan Luis Mandoki
Produksi: 2004
Bersetting di El-Salvador pada saat perang saudara (1978-1984) , kisah film berbahasa Spanyol ini memang sangat berbau tragedi pilu khas perang. Pada tahun-tahun itu, tentara pemerintah dukungan Amerika tengah berperang melawan gerilyawan FMLN (Farabundo Marti la Liberacian Nacional).
Sebuah desa tak pelak sering menjadi tempat baku senjata kedua pihak tersebut. Di desa itu lah seorang anak laki-laki bernama Chava(Carlos Padilla) tinggal bersama Ibu dan kedua adiknya, sedang ayahnya meningglakan mereka sewaktu Chava masih kecil dan hanya memberi amanat kepada Chava untuk menggantikan dirinya menjadi "Kepala keluarga".
Sang Ibu, Kella (Leonor Varella), hanyalah seorang tukang jahit. Bisa tertebak betapa susahnya hidup mereka ditambah lagi dengan adanya perang di depan mata yang seakan tak ada habisnya. Seringkali, di malam hari, saat keluarga ini sedang makan malam atau bahkan sedang tidur baku tembak dahsyat terjadi. Ada adegan miris saat sang Ibu harus pergi beberapa hari ke suatu tempat dan terpaksa meninggalkan anak-anak di rumah sendiri. Malam harinya, terjadi baku tembak yang sangat dahsyat. Chava dengan gagah berani dan sigap mengkomandoi adik-adiknya untuk bersembunyi dan merangkul mereka di bawah tempat tidur. Saat adiknya yang masih balita menangis ketakutan, Chava dan adik perempuannya, malah menggunakan lipstick ibunya untuk mencoret-coret wajah mereka dan menghibur si adik kecil. Tiga anak itu pun dapat tertawa tergelak-gelak padahal di luar rumah mereka perang sedang terjadi. Miris banget...
Chava memang seorang anak kecil pemberani. Dia sama sekali tidak takut dengan peluru nyasar, yang ia takutkan justru jika ia direkrut menjadi tentara. Pada masa itu, ada peraturan di El Salvador yang menetapkan bahwa anak laki-laki yang sudah 12 tahun harus bergabung dengan tentara pemerintah dukungan Amerika tengah. Bayangkan saja, anak-anak lelaki 12 tahun akan diajari menembak, membunuh, dan hidup keras sebagai tentara...
Satu persatu teman sekolah Chava pun mulai ditarik menjadi tentara. Chava yang baru berusia 11 tahun tak ayal mecari cara untuk menghindari hal tersebut. Salah satu caranya pada akhirnya ia lebih memilih untuk menjadi gerilyawan FLMN bersama pamannya. Akibat itu pula hidup Chava terancam berakhir di tangan tentara pemerintah.
Yang membuat film ini menarik buat saya adalah cara film ini dikemas. Film ini menggunakan sudut pandang anak-anak yang innocent dalam menghadapi perang sehingga beberapa adegan malah terasa sangat lucu dan menghibur. Seperti waktu Chava naksir anak perempuan gurunya, Christina Maria (Xuna Primus). Atau saat Chava dan teman-temannya sedang menghindari tentara dan menganggapnya sebagai permainan.
Chava bukan hanya sekedar tokoh rekaan semata. Chava adalah gambaran masa kecil Oscar Torres saat masa-masa perang saudara tersebut. Jadi bisa dibilang ini adalah film yang sangat emosional untuk Torres.
Film ini lumayan sukses di perfilman internasional. Menjadi nominasi film asing terbaik di Academy Award 2005 dan menang di Berlin International Film Festival 2005 (kategori Best Feature Film) dan Seattle International Film Festival 2005 (kategori Best Film). Kalo ga percaya ini dia awards yang didapat film ini...
Wel then, selamat menikmati film bermutu iniiii...
XOXO,
mau dong sya, pinjem. eh itu bikin signature gimana caranya sya? ajarin dooOoong
ReplyDeleteboleee..nanti gw bawain..hehe
ReplyDeletecoba kau log in ke livesignature.com. bikib dahh!!
kayaknya seru tuh pelem yang lu refferensikan..
ReplyDeletetapi, refferensinya usah kayak cerita dari si film..
pinjemz dunkz..;)
@Adi: "tapi, refferensinya usah kayak cerita dari si film..", itu maksudnya gw nulis resensinya terlalu lengkap yaa??? hehe..
ReplyDeletesory, abis gw berasa balik ke kelas Film ngerjain laporan film ini.. ^o^
heheh..gw uda nonton pelm ini sjak 3 taon lalu. salah satu gaya khas yang gw inget adalah cara berlari chava yang seperti gak seimbang gitu.
ReplyDelete@Ramtay: Inget aja dehh!! iya emang kentara banget 'oleng' nyaa..hehe!! tp Chava lucu banget kan?ya kan?ya kan?? hehe *tetep naluri cewe*
ReplyDeleteya haruslah biar cathcy filmnya. masa cast pemeran utamanya jelek?!
ReplyDelete