Seminggu yang lalu, tepatnya 9 April, adalah hari pemilihan umum legislative di
Indonesia. 33 provinsi (masih 33 ngga ya?) serentak merayakan apa yang sudah
lumrah disebut sebagai pesta demokrasi. Hampir sebulan sebelum hari ini, semua
caleg berlomba menampakkan wajahnya, lambang partainya dan slogan-slogan nan
ajaibnya.
Tahun ini kali ke-dua sejak saya dapat hak suara di pesta demokrasi. Namun, seperti biasa,
pemilu legislatif tidak pernah membuat saya terlalu excited, bahkan harus
diakui saya cenderung datar dan apatis. Yang membuat saya senang paling
paling cuma hari libur dadakan dan itu artinya bisa tidur seharian atau main
sama teman-teman.
Seperti
pagi tanggal 9 April, hari saya dimulai dengan dumelan karena orangtua saya
memaksa saya bangun pagi dan bersiap pergi ke TPS untuk voting. I didn’t really
feel like going! Tapi ayah saya bersikeras kalau anak-anaknya ngga boleh golput
tahun ini, dan sebagai anak yang berbakti saya pun nurut dan segera bersiap menuju
tempat pemungutan suara *sigh*
Jadi
ceritanya ada cerita lucu soal pemilu tahun ini yang datangnya dari ayah saya.
Tagline utama ayah tahun ini adalah ‘Say No to Golput’. Padahal sih,
tahun-tahun sebelumnya ayah ngga terlalu peduli dengan pilihan anak-anaknya,
entah mau pilih siapa, partai apa, pokoknya suka-suka. Tapi tahun ini lain
cerita. Ternyata setelah ditilik lagi, ketauan kalau ada misi tertentu yang ayah saya emban tahun ini.
Sebagai ‘Primas’
alias Pria Masjid, ayah saya di hari tua setelah pensiunnya ini menjadi super
duper relijius. Ayah rajin ikut pengajian, majlis ta’lim dan hampir ngga pernah
absen sholat berjama’ah di masjid. Pemikirannya juga jadi sangat agamis,
padahal dulu ayah saya cenderung dinamis kalau sudah menyangkut ideologi dan
pemikiran. Alhamdulillah sih ngga sampe yang ekstrim atau gimana ya, tapi pokoknya
ayah jadi agak berubah.
Saya sih
ngga akan bilang berubah jadi lebih relijius dan agamisnya ayah saya atau
siapapun itu adalah sesuatu yang tidak baik. Nope. Justru malah sangat baik,
kan toh di hari tua memang saatnya lah lebih mendekatkan diri ke sang pencipta.
Namun sayangnya, konsekuensi dari pergaulan yang baru ini buat ayah saya malah
jadi menyempitkan pandangannya.
Semarak
anti golput ayah tahun ini cenderung dilatarbelakangi oleh issue yang beredar
di masyarakat sekarang, yaitu, say no to non-moslem leaders. Maraknya pesan
singkat dan broadcast message akan hal ini terus terang bikin saya gerah. Orang
Islam (pakai bawa-bawa nama organisasi you-know-what) terang-terangan berseru
agar jangan golput dan pilihlah pemimpin yang beragama Islam. Intinya, mereka
bilang ada upaya menjadikan Indonesia sebagai Negara yang menyimpang dari
ajaran agama Islam, terutama jika Anda pilih si nganu dari partai anu, atau si
itu dari partai tertentu.
What the
hell?
Saya pikir
di tahun 2014 ini sudah tidak selayaknya hal-hal kayak gini dipermasalahkan.
Tapi yang bikin kecewa adalah, sedangkal itu makna anti golput yang diserukan
di pesan-pesan berantai di atas. Berarti kan mereka tidak peduli bagaimana
attitude atau track record pemimpin yang mereka pilih asalkan seiman. Saya
muslim dan saya toh tahu persis kalau most of corruptor di Negara ini malah
seiman dengan saya. Gimana tuh?
Ayah saya
bilang pemikiran-pemikiran yang terlalu demokratis kayak saya gini ujungnya
yang akan bikin Negara ini jadi sekuler. Terlalu liberal. Akhirnya malah gap
antara kehidupan bernegara dan agama jadi jauh dan Negara akan makin kacau
secara fundamental. Saya sendiri sih tidak terlalu memusingkan masalah sekulerisme.
Menurut saya hidup di Indonesia dengan corak agama dan budaya yang kental akan
otomatis memisahkan urusan agama dan hidup bernegara, tanpa harus
disistematisasikan dengan titel sekulerisme. Toh urusan agama juga tidak bisa
dicampur adukkan dengan budaya. Salah salah malah dicap syirik dan menyimpang
kan, seperti beberapa upacara adat yang masih eksis sampai sekarang. Tanpa
diminta pun agama sudah jadi hal yang baku di Indonesia. Dari organisasi
terkecil keluarga kita sudah punya agama, tinggal masing-masing dari kita lah
yang memilih untuk mengamalkannya atau tidak, tanpa meninggalkan peran serta
keluarga dan lingkungan.
Sumpah
kalau lagi begini otak saya langsung bercabang banyak. Stop di sini ya urusan
negaranya, daripada kepanjangan hehe..
Anyway,
beberapa hari yang lalu saya pun tepat menginjak usia seperempat abad. Lucu
juga betapa usia ke-25 ini diawali dengan pemikiran njelimet soal Negara. Am I
growing up, finally? I hope so J
Beberapa
hal yang pasti, catatan personal saya, saya bersyukur dikasih kesempatan untuk
‘mencicipi’ bidang lain dalam pekerjaan. Hopefully the outcome would be good,
both intellectually and financially for me. Saya bersyukur juga masih dikasih
otak yang sebegitu keriputnya sampai segala perintilan pun sanggup saya pikirin.
My 25 will be great, and I believe it J
Ciao!
xoxo,

No comments:
Post a Comment
Feedback, please..