Teori Gestalt dikenal juga dengan nama Gestalt Psychology. Teori ini sangat menarik dan, tanpa saya sadari
sebelumnya, terjadi di sekitar kita setiap waktu.
Secara harafiah, Gestalt yang berasal dari bahasa Jerman
berarti "essence
or shape of an entity's complete form". Terjemahan
bebasnya kurang lebih adalah esensi atau
bentuk dari suatu objek dilihat dari keseluruhannya.
Pernah dengar ungkapan “The whole being greater than the sum of its parts” ? Kira-kira
seperti itulah poin utama teori Gestalt
ini. Teori ini menjelaskan proses
persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki
hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Itulah selanjutnya
pemikiran yang disumbangkan oleh Max
Wertheimer. Lebih spesifik lagi, menurut Wertheimer, “Gestalt” sebagai the whole
form itu sendiri secara perseptual merupakan yang utama dan akan
menjelaskan bagian-bagian yang membangunnya, bukan malah sebaliknya.
“A
painting is more than the sum of its parts,' he would tell me, and then go on
to explain how the cow by itself is just a cow, and the meadow by itself is
just grass and flowers, and the sun peeking through the trees is just a beam of
light, but put them all together and you've got magic.” – dari novel Flipped (2010)
Pada prinsipnya, teori ini menekankan agar mata manusia
dapat melihat sebuah objek secara keseluruhan sebelum mempersepsikan objek
tersebut hanya berdasarkan beberapa bagiannya. Dalam bidang psikologi, Gestalt mencoba untuk memahami hukum
dari kemampuan manusia untuk meraih dan mempertahankan persepsi yang stabil di
dunia yang penuh ketidakpastian ini. Psikologi Gestalt juga melihat pikiran dan kepribadian manusia sebagai suatu
kesatuan.
Belakangan juga dikenal dengan adanya Gestalt
Effect, yaitu kemampuan indera manusia untuk menghasilkan bentuk
tertentu. Terutama kemampuan yang dibarengi dengan kemampuan visual manusia
untuk mengenali bentuk keseluruhan sebuah benda, daripada hanya melihat ke
sekumpulan garis-garis dan kurva-kurva sederhana.
Berangkat dari sini, saya mau sedikit membicarakan
hal yang lebih menarik (dan lebih tidak berbelit-belit tentunya), yaitu Gestalt
Pictures.
Gambar Gestalt
memiliki ciri unik yang membentuk satu kesatuan, namun untuk menemukan ciri
unik tersebut dibutuhkan observasi yang mendalam bahkan ekstrim. Prinsip Gestalt terkadang digunakan dalam desain
sehingga menghasilkan sebuah desain yang unik dan seringnya malah
membingungkan.
Ambilah contoh lukisan Monalisa yang legendaris, buah karya Leonardo da Vinci. Da Vinci menggunakan prinsip Gestalt saat melukis Monalisa. Lukisan ini
kerap membingungkan karena jika dilihat dari satu sisi terlihat seperti wanita
yang sedang bersedih, namun jika dilihat dari sisi sebaliknya terlihat si
wanita sedang tersenyum.
The mysterious Monalisa
Simak gambar-gambar Gestalt lain yang sungguh sangat menarik.
Woman in vanity... or skull?
The Four People
Nenek tua atau gadis cantik?
“Gambar Gestalt
adalah gambar beranak gambar, dan yang paling umum adalah gambar Gestalt nenek tua dan gadis cantik. Kedua
citra itu hadir sekaligus, dan merupakan satu gambar, tapi kamu tidak bisa
melihat keduanya secara bersamaan. Kamu harus memilih satu antara dua sudut
pandang untuk menentukan apakah itu nenek tua atau gadis cantik. Setiap kamu
melihat gambar Gestalt, kamu harus
memilih.” – Cuplikan dari novel Supernova:
Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh.
Menarik bagaimana akhirnya ada dua kesimpulan yang
bisa ditarik dari teori Gestalt ini,
walaupun sebenarnya dua kesimpulan tersebut menjadi sedikit kontradiktif dari
kaca mata saya.
Pertama,
sudah jelas, the whole being greater than
just the sum of its parts. Anda akan takjub akan apa yang bisa anda temukan
secara keseluruhan dari suatu objek, tidak hanya melihat dari bagian-bagian
tertentu saja.
Kedua,
setelah melihat sebuah objek secara keseluruhan dan menemukan bagian-bagian
yang membentuknya, manusia dapat memilih bagian mana yang ingin mereka lihat. Istilahnya,
you see what you want to see. Semua kembali
kepada pilihan anda. Your choice matters.
xoxo,