“Aku pengen tahun baruan sama kamu,” Tulismu di pesan singkat yang
kamu kirim padaku di sore hari tanggal 31 Desember. Malam pergantian tahun.
Maka dengan wajah berbinar kita pun bertemu. We really were in good mood. Pusat perbelanjaan tempat kita bertemu
sore itu sepi sekali. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keriaan tahun baru. Di
sebuah kafe kita pun melakukan branstorming
dadakan, akan ke mana lagi kita setelah ini. Sesekali menyelipkan cerita-cerita
ala kita yang kadang konyol, kadang enlightening,
kadang juga ngga jelas juntrungannya.
Still, I like those chit-chats between us
a lot.
Kamu bercerita tentang keluargamu, tentang keponakan-keponakanmu,
tentang kakakmu yang punya niatan untuk memulai bisnis bersamamu. Tapi
pembicaraan kalian tidak menemui titik akhir pada akhirnya karena kalian pun
bingung mau bisnis apa. Lagi-lagi ngga jelas juntrungannya kan! Dasar kamu!
Aku coba memberi ide-ide bisnis yang unik dan aneh yang mungkin bisa
jadi inspirasi buat kamu. Entah bisa membantu atau tidak. Sorry, I’m not into business, jadi sorry kalau ideku kacangan. Hahaha…
Ganti topik. Aku mengungkit lagi tentang masalah novel-mu yang sudah
kamu selesaikan namun belum rampung ku-edit. Tiba-tiba kamu semangat lagi untuk
menyelesaikan buku itu secepatnya dan mulai untuk mencoba mempublikasikannya.
Sebelumnya kan kamu sempat patah semangat karena aku bilang terlalu banyak EYD
yang salah dan harus diperbaiki (Lagi-lagi maaf, ya kalau bikin kamu jadi ngga pede dengan bukumu).
Kita pun berangan-angan seandainya buku itu bisa di-publish dan dapat mendatangkan
keuntungan materi untuk kita. Mulai lah rencana setengah gila-mu untuk backpacking ke Thailand. Ya ampun,
Thailand! Pengen banget aku ke sana! Aku mulai jatuh juga dalam angan-anganmu
itu.
Kita susun rencana. Kapan aku akan resign dari kantor. Kapan kamu
juga akan ikut resign kalau kamu tidak jadi dimutasi ke Negara lain. Wah,
rencana kita mulai rapih. It even starts
to sound possible.
Sore pun makin malas dan mulai menenggelamkan matahari. Bosan hanya
duduk saja di kafe, kita pun memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran mall. Ke
toko buku kita singgah. Seperti biasa, aku dan kamu selalu sibuk dengan dunia
masing-masing jika sedang ada di toko buku. Biasanya kamu suka ke display buku-buku bisnis, majalah atau
apapun yang aku ngga ngerti buku-buku
apa itu yang kamu cari. Aku seperti biasa setia di jalur fiksi, novel, sastra.
Sesekali melipir ke tempatmu untuk menggerecoki keseriusanmu mencari buku-buku
aneh. Terbukti, tiba-tiba sore itu kamu serius mencatat beberapa nama-nama anak
dari sebuah buku.
“Kamu hamilin anak orang, bang?” Asal saja kutanya. Kamu terkekeh.
“Masa kalau aku hamilin anak orang masih bisa jalan-jalan sekarang.”
“Terus ngapain nyari nama-nama anak?”
“Buat nama produk.”
Selang beberapa lama aku mulai merengek kelaparan. Kita pun makan
sejenak di area foodcourt sederhana.
Selesai makan kita mulai brainstorming
lagi akan ke mana setelah ini. Masih ada sekitar 4-5 jam lagi sebelum tahun
berganti.
Ide-ide standar seperti karaoke, nongkrong di kafe yang ada live music, keluar dari mulutmu dan
mulutku. Akhirnya kita memutuskan keluar mall untuk melihat keriuhan acara Jakarta Night Festival yang malam itu
baru pertama kali diadakan di Jakarta.
Sepanjang jalan dari Senayan sampai ke Sudirman-Thamrin sudah
ditutup agar warga bisa berjalan kaki dan menikmati car free night pertama di kota ini. Gerimis yang turun lama-lama
mulai agak lebat jatuhnya. Ini kesekian kalinya kita berdua berjalan di bawah
air hujan. Tanganmu merangkul pundakku, dan aku memeluk pinggangmu. Kita mulai
lagi rutinitas main trivia games yang
ngga penting ala kamu.
Semakin jauh jalan, semakin tidak jelas saja arah tujuan kita. Malah
kita sempat mampir lagi ke sebuah mall, mencari kafe yang ada live music-nya
karena kita sudah lelah jalan dan hujan makin lebat. Akhirnya kita keluar mall
dan lanjut jalan lagi.
Kamu tiba-tiba teringat akan sebuah lounge & bar yang ada di dekat situ. Dengan semangat ’45 dan
karena ada sedikit kejelasan di malam random ini, kita pun bergegas ambil
langkah menuju tempat yang kamu maksud.
Lucunya sampai di sana, lounge
itu ramai sekali. Masuknya bayar pula! Ha, aku dan kamu mulai pikir-pikir. Brainstorming lagi, boss! Malas banget
kan kalau harus bayar hanya untuk desak-desakan di dalam lounge itu. Pelarian kita pun akhirnya ke sebuah kafe lagi yang
kebetulan ada tidak jauh dari situ. Ngobrol ngalor ngidul lagi. Karena lapar,
aku memesan kudapan manis, sedangkan kamu tetap setia dengan es teh manis.
Kala
itu, kira-kira satu jam sebelum pergantian tahun. Topik pembicaraan kita entah
bagaimana telah sampai ke issue maha serius di penghujung tahun: Resolusi.
Kita
pun sepakat menuliskan masing-masing 10 resolusi tahun baru dengan
singkatan-singkatan aneh. Aku lantas mengirimkannya via layanan pesan singkat
ke nomor ponsel mu, pun kamu sebaliknya. Sambil tertawa cekikikan, kita
membahas 3 saja dari masing-masing daftar resolusi.
Highlight dari
resolusi ku adalah “DBFKLNHKCAI” singkatan super penting dari “Dapat Beasiswa
Full ke Luar Negeri Hopefully ke Cina atau Inggris”. Kalau highlight resolusi mu adalah “FB” dan “FKE”, yang kalau
diterjemahkan menjadi “Pengen Bisnis” dan “Pengen ke Eropa” (note: saat itu
tombol huruf P di ponselmu rusak sehingga tiap kamu mau mengetik P jadi
terpaksa mengetik F).
Anyway, we were so damn naive and felt so
burdenless that night.
Bosan
duduk duduk saja, kamu mengusulkan untuk karaoke sekalian jumpa sepupumu yang
mendadak minta bertemu. Dengan sedikit tergesa kita mencari taxi dan menuju ke area
karaoke yang sudah seperti taman bermain kita saat itu saking akrabnya.
“Balik-balik ke sini lagi kita! Haha!” serumu, hampir tidak percaya dengan
ke-randoman malam itu.
Jalanan
Jakarta malam itu terlalu tidak biasa. Sepi dan lengang. 31 Desember paling
aneh yang pernah aku alami. Sampai di tujuan, ternyata ada acara countdown di teras tempat hangout tersebut. Kita sampai tepat saat
10 detik sebelum tahun baru. Sambil terheran-heran, kita mencari posisi nyaman
untuk berdiri dan menikmati sisa countdown.
5…4…3…2…1…
HAPPY NEW YEAR!
Kembang
api beragam warna riuh rendah bermekaran di langit. Then, you kissed me
underneath it, short yet deep. “Selamat tahun baru”, ucapmu. “Selamat tahun
baru, juga”, aku merangkulmu. Lalu kita tertawa terbahak-bahak, menikmati
pemandangan spektakuler di atas kita dan menikmati keberadaan masing-masing. Masih
tak percaya akan keanehan malam itu.
Tahun
yang baru baru saja dimulai. Dan kita pun bernyanyi sampai larut...
Malam
yang sama mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Mungkin juga kamu sudah
melupakannya jauh-jauh hari. Tidak denganku. Aku yang aneh ini, mengkhianati hati
yang masih saja berusaha untuk melupakan eksistensimu, dan malah mengingat dengan
lekat tiap menit kejadian malam itu. Andai saja memori bisa dibekukan dan
disimpan, aku akan menyimpannya di sebuah bola Kristal kecil penuh dengan
ornamen confetti warna warni, penanda bahwa kisah kita pernah saling mengisi. Kisah
yang telah usai namun (setidaknya bagiku) pernah ada.