Monday, 28 July 2014

The First Writing After You Left

Hi there,
Would you be kind enough to stop
And remember
What kind of person that you wanted to be?

To me,
For those moments
I wanted to be a good girl
For you

Then we were doomed
I was bleeding
So much it sucked up my energy
Into a big hole that is you

I was fallen
Into a dark path that is you
And I was trapped
Into a deep labyrinth that is you

My eyes were a waterfall
And still are

I stopped writing  
Cause I'm afraid there will be you
In my every stroke of pen
I stopped searching
Cause I'm afraid I can't be better to anybody else

And I know we should live in the present
And how to forgive our past
No blame taken
And I'm just here to cherish you
To heal myself
To search again       
And to start writing again
To living the life again
No matter how hard it is..


Yours always,

"Aruna"


Jakarta,
Circa July 2014

Wednesday, 16 April 2014

Antara Pemilu dan Seperempat Abad

Seminggu yang lalu, tepatnya 9 April, adalah hari pemilihan umum legislative di Indonesia. 33 provinsi (masih 33 ngga ya?) serentak merayakan apa yang sudah lumrah disebut sebagai pesta demokrasi. Hampir sebulan sebelum hari ini, semua caleg berlomba menampakkan wajahnya, lambang partainya dan slogan-slogan nan ajaibnya.


Tahun ini kali ke-dua sejak saya dapat hak suara di pesta demokrasi. Namun, seperti biasa, pemilu legislatif tidak pernah membuat saya terlalu excited, bahkan harus diakui saya cenderung datar dan apatis. Yang membuat saya senang paling paling cuma hari libur dadakan dan itu artinya bisa tidur seharian atau main sama teman-teman.


Seperti pagi tanggal 9 April, hari saya dimulai dengan dumelan karena orangtua saya memaksa saya bangun pagi dan bersiap pergi ke TPS untuk voting. I didn’t really feel like going! Tapi ayah saya bersikeras kalau anak-anaknya ngga boleh golput tahun ini, dan sebagai anak yang berbakti saya pun nurut dan segera bersiap menuju tempat pemungutan suara *sigh*


Jadi ceritanya ada cerita lucu soal pemilu tahun ini yang datangnya dari ayah saya. Tagline utama ayah tahun ini adalah ‘Say No to Golput’. Padahal sih, tahun-tahun sebelumnya ayah ngga terlalu peduli dengan pilihan anak-anaknya, entah mau pilih siapa, partai apa, pokoknya suka-suka. Tapi tahun ini lain cerita. Ternyata setelah ditilik lagi, ketauan kalau ada misi  tertentu yang ayah saya emban tahun ini.


Sebagai ‘Primas’ alias Pria Masjid, ayah saya di hari tua setelah pensiunnya ini menjadi super duper relijius. Ayah rajin ikut pengajian, majlis ta’lim dan hampir ngga pernah absen sholat berjama’ah di masjid. Pemikirannya juga jadi sangat agamis, padahal dulu ayah saya cenderung dinamis kalau sudah menyangkut ideologi dan pemikiran. Alhamdulillah sih ngga sampe yang ekstrim atau gimana ya, tapi pokoknya ayah jadi agak berubah.


Saya sih ngga akan bilang berubah jadi lebih relijius dan agamisnya ayah saya atau siapapun itu adalah sesuatu yang tidak baik. Nope. Justru malah sangat baik, kan toh di hari tua memang saatnya lah lebih mendekatkan diri ke sang pencipta. Namun sayangnya, konsekuensi dari pergaulan yang baru ini buat ayah saya malah jadi menyempitkan pandangannya.


Semarak anti golput ayah tahun ini cenderung dilatarbelakangi oleh issue yang beredar di masyarakat sekarang, yaitu, say no to non-moslem leaders. Maraknya pesan singkat dan broadcast message akan hal ini terus terang bikin saya gerah. Orang Islam (pakai bawa-bawa nama organisasi you-know-what) terang-terangan berseru agar jangan golput dan pilihlah pemimpin yang beragama Islam. Intinya, mereka bilang ada upaya menjadikan Indonesia sebagai Negara yang menyimpang dari ajaran agama Islam, terutama jika Anda pilih si nganu dari partai anu, atau si itu dari partai tertentu.


What the hell?


Saya pikir di tahun 2014 ini sudah tidak selayaknya hal-hal kayak gini dipermasalahkan. Tapi yang bikin kecewa adalah, sedangkal itu makna anti golput yang diserukan di pesan-pesan berantai di atas. Berarti kan mereka tidak peduli bagaimana attitude atau track record pemimpin yang mereka pilih asalkan seiman. Saya muslim dan saya toh tahu persis kalau most of corruptor di Negara ini malah seiman dengan saya. Gimana tuh?


Ayah saya bilang pemikiran-pemikiran yang terlalu demokratis kayak saya gini ujungnya yang akan bikin Negara ini jadi sekuler. Terlalu liberal. Akhirnya malah gap antara kehidupan bernegara dan agama jadi jauh dan Negara akan makin kacau secara fundamental. Saya sendiri sih tidak terlalu memusingkan masalah sekulerisme. Menurut saya hidup di Indonesia dengan corak agama dan budaya yang kental akan otomatis memisahkan urusan agama dan hidup bernegara, tanpa harus disistematisasikan dengan titel sekulerisme. Toh urusan agama juga tidak bisa dicampur adukkan dengan budaya. Salah salah malah dicap syirik dan menyimpang kan, seperti beberapa upacara adat yang masih eksis sampai sekarang. Tanpa diminta pun agama sudah jadi hal yang baku di Indonesia. Dari organisasi terkecil keluarga kita sudah punya agama, tinggal masing-masing dari kita lah yang memilih untuk mengamalkannya atau tidak, tanpa meninggalkan peran serta keluarga dan lingkungan.


Sumpah kalau lagi begini otak saya langsung bercabang banyak. Stop di sini ya urusan negaranya, daripada kepanjangan hehe..


Anyway, beberapa hari yang lalu saya pun tepat menginjak usia seperempat abad. Lucu juga betapa usia ke-25 ini diawali dengan pemikiran njelimet soal Negara. Am I growing up, finally? I hope so J
Beberapa hal yang pasti, catatan personal saya, saya bersyukur dikasih kesempatan untuk ‘mencicipi’ bidang lain dalam pekerjaan. Hopefully the outcome would be good, both intellectually and financially for me. Saya bersyukur juga masih dikasih otak yang sebegitu keriputnya sampai segala perintilan pun sanggup saya pikirin. My 25 will be great, and I believe it J



Ciao!

xoxo,


Thursday, 3 April 2014

Stuff


"And that’s how it goes, Kids. The friends, neighbors, drinking buddies and partners in crime you love so much when you’re young, as the years go by, you just lose touch.You will be shocked, Kids, when you discover how easy it is in life to part ways with people forever.That’s why when you find someone you want to keep around, you do something about it."
[Ted Mosby – How I Met Your Mother S09x21]

Those lines of words got me thinking of each person that has existed in my life. How long I’ve known them. The ones who stay.. The ones who left…

As I list every friendship/relationship I’ve had, it occurs to me that I’m so blessed to be surrounded by some of the best people on earth. And surprisingly, I manage to keep many of those relationships. Teman SD, SMP, SMA, kuliah and even colleagues from work that I consider now as my new brothers and sisters.
And I’m planning to keep them around for a long long time. J

Sure, some of the most personal relationships didn’t work out and I let it go. Though I’ve to admit that I work so hard to keep the last one. I got myself thinking that we can’t make people stay if they don’t have any guts to stay. But then, I rethink again, as quoted from Mosby himself that, when you find someone you want to keep around, you do something about it. So, I think it's clear now why I keep him around my nerves after all..

Humans don’t have so much time on earth. To make it even enough would be a miracle. Some people call it joy when they can have it spent with their loved ones. And as you’re getting older you would find your time is too precious to waste it with things you don’t like, or to even pretend.



xoxo,




Thursday, 27 February 2014

Kisah Gadis Pemalu dan Lelaki Pengganggu

Alkisah di sebuah taman kecil di belahan lain sebuah kota yang tidak terlalu ramai dengan manusia, seorang gadis biasa duduk dan menatap kosong ke depannya. Ada seorang lelaki yang sedang tertawa bahagia bersama temannya. Entah apa yang ia tertawakan sampai giginya kelihatan semua.

Sang gadis tiba-tiba tersipu. Entah apa itu, yang jelas senyum lelaki itu sangat lucu.

Sadar diperhatikan, lelaki mulai berlagak. Tertawanya jadi dibuat-buat, terdengar seperti suara burung gagak. Ia memberitahu temannya bahwa ada gadis manis yang memantau mereka dari kejauhan.

Sang gadis masih berusaha menyembunyikan rona merah pipinya. Ia lantas membuka buku yang dibawanya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Tiba-tiba seseorang datang duduk di sebelahnya. Lelaki itu! Hati sang gadis jadi tak menentu. Karena salah tingkah ia bersiap angkat kaki seribu.

Si lelaki pengganggu diam saja. Niat menggangu saja yang dia punya. Namun begitu dia melihat si gadis akan segera pergi, dia segera ambil aksi.

Lelaki bertanya tentang buku yang dibaca si gadis. Si gadis tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Si lelaki bertanya lagi mengapa ia sendirian. Sang gadis hanya mengangguk sopan.

Karena penasaran dan kesal, si lelaki sontak nyeletuk, “cantik-cantik kok gagu, Mbak?”

Si gadis terkejut, namun dengan tenang dia mengambil secarik kertas dan pena dari dalam tasnya, dan menulis,

“Maaf, saya memang gagu alias tuna wicara :)”.

Ia selipkan kertas tersebut di tangan sang lelaki, kemudian dia angkat kaki.

Sang lelaki membeku setelah membaca pesan itu. Wajah sampai telinganya memerah karena malu. Ingin dia kejar si gadis itu, tapi apa daya, lidah pun tubuhnya sudah kelu.

Dari jarak 10 meter setelah meninggalkan si lelaki, sang gadis menoleh dan tertawa nyaris terbahak.

“Maaf ya, saya terlalu pemalu untuk bicara sama kamu…” ujarnya pelan.

“Gilaaa.. ngga lagi-lagi gue gangguin cewek sembarangan”, gerutu si lelaki dari kejauhan.


 ~fin~



xoxo,


Friday, 14 February 2014

Valentine's Tune

It's Valentine again (d'oh) !!

Can't say too much about today, but I've got a sweet tune I've been humming aroung for a month now. It is a sweet song called "Boat Song" from an American christian-folk singer named JJ Heller.

Heller's musics are mainly in the spot of christian and kinda country folky, and I usually cannot stand too much country music, but this Boat Song is more of a catchy acoustic and is totally cute. Heller's sweet smile and those cute backgrounds in the music video will cheer up your Val's day, both for the singles and doubles.. *wink*






"Boat Song"

If you were a boat, my darling
A boat, my darling
I'd be the wind at your back
If you were afraid, my darling
Afraid, my darling
I'd be the courage you lack

If you were a bird, then I'd be a tree
And you would come home, my darling, to me
If you were asleep, then I'd be a dream
Wherever you are, that's where my heart will be
Oh, do you know we belong together?
Oh, do you know my heart is yours?

If you were the ocean, I'd be the sand
If you were a song, I'd be the band
If you were the stars, then I'd be the moon
A light in the dark, my darling, for you

Oh, do you know we belong together?
Oh, do you know my heart is yours?

Oh, do you know we belong together?
Oh, do you know my heart is yours?
Oh, do you know we belong together?
Oh, do you know my heart is yours?

[JJ Heller - Boat Song]


xoxo,

Wednesday, 12 February 2014

'If I were to Send You a Letter, This Would be it’

I found this poem from Lang Leav's blog. Well, she's one of the most pop poets right now, so yes, I'm kinda into her.

This miserable, desperate yet beautiful poem talks about letting go of the dearest one at your life. I've been quite familiar with the topic of moving on, letting go and stuff like that for like, one year now. But this poem practically gives me goosebumps every time I've chance to read it.

It's not mostly about unrequited love or like that harsh broken heart. What amazed me the most is how you can turn a sad goodbye, that miserable feeling of letting go, to be one of the moment that deserves to be preserved, to be remembered as good as it got.

No hatred, no regrets, only that sad emotion of joy..



'If I were to send you a letter, this would be it’


I guess this could be both a goodbye and a hello,
 a soft goodbye because I know this letter marks the last time you will ever think of me,
 and a hard hello because you cannot simply fathom the amount of missing you that has taken place
 In this hollow heart of mine.
  
Because every night I discover you in a new and brilliant way.

Your name is painted in a delicate red under the tight seams of the wallpaper I put up after you left. 
 The ripped up poetry pages you kept are still in my trash can since it has not yet been a full week

Since I destroyed every physical memory of you. 
The roses you bought me which were intended to help stifle the pain of our breakup
only renew it in the most hateful way possible.


Obviously I still think of you though 

You are the chemical ingredients which make me feel miserable
 You are the cracks in my bones which grow with every passing hour
 You are the hour, the minute and the second hand
Always chipping away at the few hours of sanity I have left. 
And you are the rose petals in my tea

Marking the death of another far off love that couldn’t have been quite as extraordinary as ours. 
Yet I find myself thinking 
 If I could just let go of all of these things then maybe 
 Just maybe, I can let go of you too.
 So I have decided to leave 
 to leave this apartment which is only a graveyard of short-lived memories
 And to move to another country
 And maybe then I will finally be happy. 

I will write more and read more, paint and take more photographs, and hopefully fall in love, one last time.

 But if that makes you sad just know this;
 I will still find you in some way, whether it be the touch of the cold rain or silent kiss of soft snow 
 or even the whisp of sheets which surround me as I sleep 

And it will be these moments, these soft goodbyes and hard hellos 
Which I will live for

When my next lover becomes eternally reckless with my crystal heart...



— Grayson Herrg, “If I were to write you a letter this would be it” (via Langleav's blog)



xoxo,

 



Tuesday, 7 January 2014

Movie Review: About Time




We're all travelling
through time together
every day of our lives.
All we can do is do our best
to relish this remarkable ride.
[About Time - 2013]



Hell, Richard Curtis did it again!


The king of rom-coms director is back. Buat yang suka sama film rom-com (Me? LOVIN IT!) pasti sudah sangat familiar dengan karya-karya si kakek romantis ini. Love Actually, Notting Hill, Bridget Jones Diaries, Four Funerals and Weddings? You've gotta be kidding me if you don't recognize him from those movies.

Kali ini mata saya langsung jatuh cinta oleh pemandangan apik nan romantis Vault beach, Inggris sebagai salah satu setting di film ini. Alkisah, keluarga Lake tinggal di rumah di tepi pantai di mana mereka hidup dengan sangat nyaman, damai dan harmonis. Everything looks perfect (way till the end, in fact. Ooops spoiler alert!)

Tiba-tiba, di hari ulang tahunnya yang ke-21, Tim (Domhnall Gleeson) si sulung mendapat kejutan dari sang ayah. Bukan sulap bukan sihir, semua lelaki di keluarga Lake ternyata punya kemampuan untuk travel back in time alias jalan-jalan ke masa lalu.

Sounds familiar? sampai sini saya mulai berpikir, jangan-jangan film ini semacam jiplakan dari "The Time Traveler's Wife" yang mengusung tema science dan romance jadi satu. Kebetulan juga both of the movies have the same heroine, Ms. Rachel McAdams herself. Tapi dari awal film ini tidak ada kesan serius sama sekali, atau mungkin karena efek si kakek eksentrik Bill Nighy yang jadi Mr. Lake senior ya?

Lanjut cerita, Tim lantas menganggap ayahnya sudah gila. Namun, karena didesak, ia akhirnya mencoba apa yang diinstruksikan ayahnya agar bisa jalan-jalan ke masa lalu. Dan yaa benar aja loh, si Tim balik ke malam sebelumnya saat ada pesta tahun baru di rumahnya. 

Tim yang shock mulai bertanya-tanya untuk apa sebenarnya kemampuan itu. Sang ayah dengan bijak dan sedikit konyol mengingatkan Tim untuk senantiasa hati-hati dengan gift nya tersebut. Banyak lelaki di keluarga besarnya yang hidupnya berantakan atau bahkan kewarasannya terganggu akibat serampangan jalan-jalan ke masa lalu. Dasar Tim yang memang aslinya lugu dan sedikit naif, dia bilang ke ayahnya kalau dia hanya ingin menggunakan kekuatannya untuk mencari cinta. Cheesy? Hmmm, super!

His first try adalah mencoba merubah keadaan di masa lalu agar cinta pertama-nya mau menerima cintanya. Sayang, bahkan merubah masa lalu pun tidak bisa membuat seseorang lantas jatuh cinta kepadamu. Mungkin itu pesan pertama yang saya tangkap di film ini. 

Singkatnya, Tim pindah ke London untuk mengejar karir sebagai pengacara muda. Seperti yang sudah bisa diduga, there he found love and he messed it up by helping a friend in need, same old.. same old... 
Adalah seseorang yang lugu, manis, agak quirky bernama Mary (Rachel McAdams) yang menjadi wanita idaman Tim kali ini. Dari pertemuan pertamanya yang manis, sampai proses Tim menemukan kembali Mary karena keteledorannya yang membuat Mary sempat tidak eksis di kehidupannya, manjadi krisis pertama dari Tim's time-travelling experience.

The rest of the movies, mata saya seperti digelayuti mimpi tak berkesudahan tentang manisnya pasangan Tim dan Mary. Saat mereka memutuskan tinggal bersama, saat Tim melamar Mary, Mary yang diterima dengan sangat baik oleh keluarga Lake, hari pernikahan mereka yang lucu sampai saat putri pertama mereka lahir. Welcome to the love-tale ala Richard Curtis. Pokoknya semua berjalan rapih dan menyenangkan buat Mary dan Tim.

Konflik yang mulai serius ditunjukkan oleh beberapa kejadian yang membuat Tim sadar kalau kemampuan time-travelling nya memiliki keterbatasan. Pada akhirnya Tim harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia pun tidak bisa memilih untuk menyelamatkan ayahnya yang didiagnosa kanker stadium akhir. Karena hidup bukanlah berbalik ke belakang namun terus melangkah ke depan

Jujur film ini jauh sekali dari kata sempurna. Banyak adegan yang janggal dari time-travelling issue nya dan plot yang terlalu dipaksa dipercepat, seperti saat Tim diberitahu masalah kemampuan khususnya. Beberapa karakter yang harusnya menonjol juga malah kecil porsinya. Karakter adik Tim yang hippie-perky-quirky, Kit-kat (Lydia Wilson), kurang diasah lebih dalam padahal sangat berpotensi untuk memunculkan konflik yang lebih menarik.


Alur juga terasa sangat santai. All is about the lovey dovey of love and life. Saya sih lumayan enjoy cause I'm a big lover of this genre, tapi buat sebagian orang mungkin akan terasa jengah dan membosankan.

Namun tetap saja, king Richard Curtis selalu memberikan 'sesuatu' di akhir filmnya. 'Sesuatu' yang membuat kita merenungi hidup pada akhirnya. Hubungan Tim dan sang ayah benar-benar bikin saya nangis dayak. Satu yang pasti, setelah nonton film ini, saya jadi lebih mensyukuri hidup dan tentunya jadi lebih sayang keluarga. Totally recommended movie, over all!


"The truth is, I now don't travel back at all. Not even for the day.
I just try to live every day as if I've deliberately come back to this one day, to enjoy it as if it was the full final day of my extraordinary, ordinary life." - Tim Lake




Director: Richard Curtis
Writer: Richard Curtis
Starring: Domhnall Gleeson, Rachel McAdams, Bill Nighy, Lydia Wilson, Tom Hollander, Margot Robbie, Vanessa Kirby
Release Date: Nov. 1, 2013


xoxo,




Wednesday, 1 January 2014

NYE

“Aku pengen tahun baruan sama kamu,” Tulismu di pesan singkat yang kamu kirim padaku di sore hari tanggal 31 Desember. Malam pergantian tahun.

Maka dengan wajah berbinar kita pun bertemu. We really were in good mood. Pusat perbelanjaan tempat kita bertemu sore itu sepi sekali. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keriaan tahun baru. Di sebuah kafe kita pun melakukan branstorming dadakan, akan ke mana lagi kita setelah ini. Sesekali menyelipkan cerita-cerita ala kita yang kadang konyol, kadang enlightening, kadang juga ngga jelas juntrungannya. Still, I like those chit-chats between us a lot.

Kamu bercerita tentang keluargamu, tentang keponakan-keponakanmu, tentang kakakmu yang punya niatan untuk memulai bisnis bersamamu. Tapi pembicaraan kalian tidak menemui titik akhir pada akhirnya karena kalian pun bingung mau bisnis apa. Lagi-lagi ngga jelas juntrungannya kan! Dasar kamu!

Aku coba memberi ide-ide bisnis yang unik dan aneh yang mungkin bisa jadi inspirasi buat kamu. Entah bisa membantu atau tidak. Sorry, I’m not into business, jadi sorry kalau ideku kacangan. Hahaha…

Ganti topik. Aku mengungkit lagi tentang masalah novel-mu yang sudah kamu selesaikan namun belum rampung ku-edit. Tiba-tiba kamu semangat lagi untuk menyelesaikan buku itu secepatnya dan mulai untuk mencoba mempublikasikannya. Sebelumnya kan kamu sempat patah semangat karena aku bilang terlalu banyak EYD yang salah dan harus diperbaiki (Lagi-lagi maaf, ya kalau bikin kamu jadi ngga pede dengan bukumu).

Kita pun berangan-angan seandainya buku itu bisa di-publish dan dapat mendatangkan keuntungan materi untuk kita. Mulai lah rencana setengah gila-mu untuk backpacking ke Thailand. Ya ampun, Thailand! Pengen banget aku ke sana! Aku mulai jatuh juga dalam angan-anganmu itu.

Kita susun rencana. Kapan aku akan resign dari kantor. Kapan kamu juga akan ikut resign kalau kamu tidak jadi dimutasi ke Negara lain. Wah, rencana kita mulai rapih. It even starts to sound possible.

Sore pun makin malas dan mulai menenggelamkan matahari. Bosan hanya duduk saja di kafe, kita pun memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran mall. Ke toko buku kita singgah. Seperti biasa, aku dan kamu selalu sibuk dengan dunia masing-masing jika sedang ada di toko buku. Biasanya kamu suka ke display buku-buku bisnis, majalah atau apapun yang aku ngga ngerti buku-buku apa itu yang kamu cari. Aku seperti biasa setia di jalur fiksi, novel, sastra. Sesekali melipir ke tempatmu untuk menggerecoki keseriusanmu mencari buku-buku aneh. Terbukti, tiba-tiba sore itu kamu serius mencatat beberapa nama-nama anak dari sebuah buku.
“Kamu hamilin anak orang, bang?” Asal saja kutanya. Kamu terkekeh.
“Masa kalau aku hamilin anak orang masih bisa jalan-jalan sekarang.”
“Terus ngapain nyari nama-nama anak?”
“Buat nama produk.”

Selang beberapa lama aku mulai merengek kelaparan. Kita pun makan sejenak di area foodcourt sederhana.

Selesai makan kita mulai brainstorming lagi akan ke mana setelah ini. Masih ada sekitar 4-5 jam lagi sebelum tahun berganti.

Ide-ide standar seperti karaoke, nongkrong di kafe yang ada live music, keluar dari mulutmu dan mulutku. Akhirnya kita memutuskan keluar mall untuk melihat keriuhan acara Jakarta Night Festival yang malam itu baru pertama kali diadakan di Jakarta.

Sepanjang jalan dari Senayan sampai ke Sudirman-Thamrin sudah ditutup agar warga bisa berjalan kaki dan menikmati car free night pertama di kota ini. Gerimis yang turun lama-lama mulai agak lebat jatuhnya. Ini kesekian kalinya kita berdua berjalan di bawah air hujan. Tanganmu merangkul pundakku, dan aku memeluk pinggangmu. Kita mulai lagi rutinitas main trivia games yang ngga penting ala kamu.

Semakin jauh jalan, semakin tidak jelas saja arah tujuan kita. Malah kita sempat mampir lagi ke sebuah mall, mencari kafe yang ada live music-nya karena kita sudah lelah jalan dan hujan makin lebat. Akhirnya kita keluar mall dan lanjut jalan lagi.

Kamu tiba-tiba teringat akan sebuah lounge & bar yang ada di dekat situ. Dengan semangat ’45 dan karena ada sedikit kejelasan di malam random ini, kita pun bergegas ambil langkah menuju tempat yang kamu maksud.

Lucunya sampai di sana, lounge itu ramai sekali. Masuknya bayar pula! Ha, aku dan kamu mulai pikir-pikir. Brainstorming lagi, boss! Malas banget kan kalau harus bayar hanya untuk desak-desakan di dalam lounge itu. Pelarian kita pun akhirnya ke sebuah kafe lagi yang kebetulan ada tidak jauh dari situ. Ngobrol ngalor ngidul lagi. Karena lapar, aku memesan kudapan manis, sedangkan kamu tetap setia dengan es teh manis.
Kala itu, kira-kira satu jam sebelum pergantian tahun. Topik pembicaraan kita entah bagaimana telah sampai ke issue maha serius di penghujung tahun: Resolusi.

Kita pun sepakat menuliskan masing-masing 10 resolusi tahun baru dengan singkatan-singkatan aneh. Aku lantas mengirimkannya via layanan pesan singkat ke nomor ponsel mu, pun kamu sebaliknya. Sambil tertawa cekikikan, kita membahas 3 saja dari masing-masing daftar resolusi.

Highlight dari resolusi ku adalah “DBFKLNHKCAI” singkatan super penting dari “Dapat Beasiswa Full ke Luar Negeri Hopefully ke Cina atau Inggris”. Kalau highlight resolusi mu adalah “FB” dan “FKE”, yang kalau diterjemahkan menjadi “Pengen Bisnis” dan “Pengen ke Eropa” (note: saat itu tombol huruf P di ponselmu rusak sehingga tiap kamu mau mengetik P jadi terpaksa mengetik F).

Anyway, we were so damn naive and felt so burdenless that night.

Bosan duduk duduk saja, kamu mengusulkan untuk karaoke sekalian jumpa sepupumu yang mendadak minta bertemu. Dengan sedikit tergesa kita mencari taxi dan menuju ke area karaoke yang sudah seperti taman bermain kita saat itu saking akrabnya. “Balik-balik ke sini lagi kita! Haha!” serumu, hampir tidak percaya dengan ke-randoman malam itu.

Jalanan Jakarta malam itu terlalu tidak biasa. Sepi dan lengang. 31 Desember paling aneh yang pernah aku alami. Sampai di tujuan, ternyata ada acara countdown di teras tempat hangout tersebut. Kita sampai tepat saat 10 detik sebelum tahun baru. Sambil terheran-heran, kita mencari posisi nyaman untuk berdiri dan menikmati sisa countdown.

5…4…3…2…1… HAPPY NEW YEAR!

Kembang api beragam warna riuh rendah bermekaran di langit. Then, you kissed me underneath it, short yet deep. “Selamat tahun baru”, ucapmu. “Selamat tahun baru, juga”, aku merangkulmu. Lalu kita tertawa terbahak-bahak, menikmati pemandangan spektakuler di atas kita dan menikmati keberadaan masing-masing. Masih tak percaya akan keanehan malam itu.

Tahun yang baru baru saja dimulai. Dan kita pun bernyanyi sampai larut...

Malam yang sama mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Mungkin juga kamu sudah melupakannya jauh-jauh hari. Tidak denganku. Aku yang aneh ini, mengkhianati hati yang masih saja berusaha untuk melupakan eksistensimu, dan malah mengingat dengan lekat tiap menit kejadian malam itu. Andai saja memori bisa dibekukan dan disimpan, aku akan menyimpannya di sebuah bola Kristal kecil penuh dengan ornamen confetti warna warni, penanda bahwa kisah kita pernah saling mengisi. Kisah yang telah usai namun (setidaknya bagiku) pernah ada.


xoxo,